Selamat Datang ! .
Tampilkan posting dengan label muncar. Tampilkan semua posting

Pergulatan di Ujung Timur Pulau Jawa




Nelayan Muncar di Banyuwangi, Jawa Timur, bersiap melaut, Jumat (21/12). Nelayan Muncar masih menggunakan perahu dan alat tangkap tradisional untuk menjaring ikan.
Perahu Suhiran (45) perlahan merapat di Pelabuhan Muncar. Wajah-wajah pelaut terlihat lelah, tetapi mata mereka menyiratkan kegirangan. Inilah gambaran kehidupan di Muncar, daerah di ujung timur Pulau Jawa yang lekat dengan perikanan.

Hari itu, Senin (17/12), Suhiran dan nelayan lainnya panen raya. Puluhan ton ikan yang mereka bawa siap berpindah dari lambung kapal ke pabrik-pabrik sarden.
Aroma ikan segar langsung menyeruak begitu memasuki jalan utama kawasan itu. Jalur masuk ke dermaga, pasar, dan jalan besar sesak dengan orang- orang yang mengangkut ikan, es balok, keranjang bambu, dan jeriken bahan bakar minyak. Riuh pedagang, pembeli, dan anak buah kapal bercampur jadi satu. Pagi itu ikan melimpah. Semua orang bergairah bekerja setelah sekian lama paceklik.

Suhiran (45), pemilik perahu, tersenyum menyaksikan ratusan ikannya berpindah tangan ke pedagang. Pada hari itu perahu tradisionalnya berhasil menangkap 10 ton ikan sarden dari Selat Bali. Hanya dengan berkaus oblong, bersarung, dan bersandal jepit, ia pun melangkah ke bank untuk bertransaksi uang.
Muncar adalah kecamatan di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Letaknya di pesisir Selat Bali. Pada masa silam orang merujuk Muncar sebagai pelabuhan di Teluk Pangpang, bagian dari Kerajaan Blambangan. Kini Muncar berkembang sebagai salah satu pelabuhan ikan terbesar di Nusantara.
Suhiran adalah salah satu nelayan yang menikmati melimpahnya ikan di kawasan pelabuhan itu. Ia keturunan Bugis, kakek buyutnya datang ke Muncar jauh sebelum masa kemerdekaan.
Tidak hanya orang Bugis, kampung-kampung nelayan di Muncar juga dipenuhi pendatang, seperti orang Madura, Jawa, dan Mandar.


Muncar memang penuh dengan pendatang. Ratusan tahun lalu suku Madura, Bugis, Mandar, Melayu, China, Jawa, hingga kongsi dagang Inggris dan pasukan Belanda datang ke tempat ini untuk mencari kekayaan Blambangan, berdagang, dan merebut kekuasaan.
Kedatangan para pelaut Bugis dan Madura ke Muncar pada zaman dulu tercatat dalam buku Ujung Timur Jawa, 1763-1813: Perebutan Hegemoni Blambangan yang ditulis oleh sejarawan Universitas Gadjah Mada, Sri Margana.

Dikisahkan, pernah ada kapal besar milik English East India Company, kompeni dagang Inggris, yang merapat ke Blambangan pada Agustus 1766. Mereka membawa pelaut Bugis dan Madura di dalam ratusan perahu kecil. Pedagang Inggris itu menukar opium, senjata api, dan 2 ton bubuk mesiu dengan 10 koyan beras dan kerbau.

Perdagangan yang dibuka oleh Inggris itu membuat orang- orang China, Melayu, dan Mandar tertarik datang. Sebelum Inggris, pasukan dari Mataram, Bali, dan Belanda lebih dulu memasuki Blambangan. Awalnya mereka menetap sementara, tetapi akhirnya mereka hidup turun-temurun di pesisir, menikmati melimpahnya kekayaan laut Selat Bali.

Selama berabad-abad, Selat Bali memanjakan nelayan Muncar dengan ikan, terutama ikan lemuru. Pada 2000-2008, berdasarkan data Dinas Kelautan dan Perikanan Banyuwangi, pelabuhan ini memasok sedikitnya 60.000 ton ikan.

Ikan sebanyak itu tidak diambil dengan menggunakan perahu modern. Nelayan di Muncar masih setia memakai perahu tradisional, seperti jukung dan slereg. Jukung biasanya dipakai oleh nelayan kecil. Adapun slereg atau perahu ganda seperti milik Suhiran bisa berlayar jauh hingga ke Samudra Indonesia.
Slereg memang perahu pengejar ikan. Sekali berangkat, slereg yang jumlah kapalnya sepasang bisa memuat 40 awak kapal dengan kapasitas angkut ikan 25 ton. ”Era 2000-an, slereg hampir selalu penuh ikan saat mendarat lagi di pelabuhan,” kata Muhtadin, nelayan keturunan Madura.

Melimpahnya lemuru menarik para investor datang untuk membangun pabrik pengolahan ikan di Banyuwangi. Jadilah Muncar sebagai pusat industri pengalengan ikan di Nusantara. Industri pengolahan ikan skala kecil pun turut berkembang. Pabrik tepung ikan, minyak ikan, hingga gudang pendingin dan pemindangan memadati kawasan industri perikanan.
Muncar tak habis-habisnya memanjakan nelayan. Saat musim ikan reda, muncul ubur-ubur. Menurut Pamudji (33), nelayan Muncar keturunan Jawa, ubur-ubur biasanya dijual untuk diekspor ke Korea. Harganya tak kalah dengan ikan, Rp 10.000 per kilogram.
Mudahnya mendapatkan hasil laut di Pantai Muncar tidak lepas dari kondisi geografis Muncar. Kuatnya arus di Selat Bali membawa serta ikan dan biota laut lainnya ke Teluk Pangpang. Di sinilah nelayan menjaring ikan yang terseret arus dan terjebak ke teluk.


Sayangnya, potensi itu tak selamanya bisa dinikmati nelayan. Pada 2009-2011, perdagangan Muncar lumpuh total karena paceklik berkepanjangan. Paceklik yang biasanya hanya 1-2 bulan kini mendera sampai 2 tahun. Hasil tangkapan ikan merosot drastis dari 80.000 ton menjadi sekitar 20.000 ton. Nelayan menuding bahwa kerusakan lingkungan menjadi penyebab. Namun, pabrik besar menyalahkan perubahan iklim.
Tak hanya lemuru yang langka. Tongkol dan layar pun menghilang. Industri perikanan terpukul. Pabrik pengalengan menyusut dari 15 unit menjadi 7 unit. Sebagian bertahan dengan menggunakan lemuru impor. Kompleksitas industri di Muncar pun menjadi ironi. Ikan dari Muncar digantikan oleh ikan dari China.
Sumadi (46), salah satu awak buah kapal, bahkan menggadaikan sertifikat rumahnya dan menjual perhiasan istrinya.
Untunglah masa paceklik itu mulai terlewati. Namun, persoalan tetap membelit. Kerusakan lingkungan dan konsumerisme. Muaranya jelas: kemiskinan!

KOMPAS/SIWI YUNITA CAHYANINGRUM
sumber: kompas

Update Petik Laut Muncar 2012





Tradisi petik laut yang ditandai dengan melarung sesaji berupa kepala kerbau ke laut belum lama ini kembali digelar masyarakat nelayan di Banyuwangi, Jawa Timur.Ritual nelayan disalah satu pantai pelelangan ikan terbesar di Indonesia ini diadakan tiap tahun pada bulan Suro. Ribuan nelayan Muncar ikut ambil bagian

Ritual diawali iring-iringan sesaji utama di kapal Bitek berupa kepala kerbau, tiga ekor ayam, nasi enam warna keliling kampung. Di pimpin seorang pawang petik laut, sesaji kemudian diangkut kedalam perahu dibawa menuju lepas pantai.

Nelayan Muncar menggelar ritual petik laut sejak tahun 1901. Mereka percaya, jika petik laut tidak digelar dapat mendatangkan musibah. Sampai lepas pantai, pawang memberi aba-aba sebagai tanda sesaji saatnya dilarung. Para nelayan terjun merebut sesaji yang dianggap bisa mendapatkan berkah.


Videonya dibawah ini yaa



Sekilas Tentang Ikan Layur

Ikan layur, yang bentuknya panjang pipih dengan kulit mengkilat, merupakan jenis ikan yang diekspor. Bila tangkapanya sedikit justru tidak begitu laku. Tapi bila tangkapanya banyak, berapapun banyaknya, akan bisa diserap pasar ekspor

 
Layur (Trichiurus lepturus) adalah ikan perairan laut yang mudah dikenal dari bentuknya yang panjang dan ramping. Ikan ini tersebar di perairan tropika maupun sedang. Jenis yang ditemukan di Samudera Pasifik dan Samudera Atlantik diketahui merupakan populasi yang berbeda.

Ukuran tubuhnya dapat mencapai panjang 2 m, dengan berat maksimum tercatat 5 kg dan usia dapat mencapai 15 tahun. Kegemarannya pada siang hari berkeliaran di perairan dangkal dekat pantai yang kaya plankton krustasea. Pada waktu malam ikan ini mendekat ke dasar perairan.



Layur mudah dijumpai di tempat penjualan ikan di Indonesia. Selain diolah sebagai ikan asin, layur juga menjadi umpan pancing. Orang Jepang menyebutnya tachiuo dan memakannya mentah (sebagai sashimi) atau dibakar. Orang Korea menyebutnya galchi dan mengolahnya dengan digoreng atau dibakar. Ikan ini disukai karena dagingnya yang kenyal, tidak terlalu amis, tidak berminyak, serta mudah dilepas tulangnya.

Petik Laut Nelayan di Kota Ikan Muncar 2011


BANYUWANGI –  Untuk memohon berkah rezeki dan keselamatan, masyarakat nelayan Muncar melangsungkan ritual Petik Laut di Pantai Muncar, (11/12). Menurut  ketua panitia penyelenggara, Ridiyanto, ritual Petik Laut juga dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur pada Tuhan atas rezeki yang telah didapat oleh para nelayan sepanjang satu tahun terakhir.  Ritual itu diikuti oleh ratusan nelayan yang mengiringi perahu githik yang berisi aneka esaji untuk dilarung ke laut.

Diceritakan Ridiyanto, ritual Petik Laut diawali dari pembuatan sesaji oleh sesepuh nelayan. Sesaji tersebut berisi berbagai jenis hasil bumi yang ditata dengan indah dalam perahu kecil yang disebut githik. Pada malam hari sebelum pelaksanaan Petik Laut, di tempat perahu  sesaji dipersiapkan dilakukan tirakatan. Di beberapa surau atau rumah juga diadakan pengajian atau semaan.


Menjelang siang, sesaji diarak menggunakan dokar menuju pantai. Ribuan warga berdiri di sepanjang jalan mengamati perjalanan sesaji ( ider bumi ). Begitu lewat, warga berhamburan mengikuti di belakang menuju pantai. Arak-arakan berakhir di tempat pelelangan ikan ( TPI ) Muncar, yang dihadiri jajaran Forum Pimpinan Daerah Banyuwangi dan pejabat setempat.

Sesaji yang tiba tersebut disambut oleh enam penari Gandrung. Setelah dibacakan doa oleh sesepuh nelayan sesaji kemudian diarak menuju perahu. Warga berebut untuk bisa naik perahu pengangkut sesaji. Namun, petugas membatasi penumpang yang ikut ke tengah. Sebelum diberangkatkan, Bupati Abdullah Azwar Anas diwajibkan memasang pancing emas di lidah kepala kambing. Hal itu karena Bupati Anas sebagai kepala daerah dianggap mewakili rakyatnya untuk memasangkan simbol permohonan berupa pancing emas agar nelayan diberi hasil ikan melimpah



Setelah sampai di tengah laut, dipimpin sesepuh nelayan, sesaji pelan-pelan diturunkan dari perahu. Teriakan syukur menggema begitu sesaji jatuh dan tenggelam ditelan ombak. Begitu sesaji tenggelam, para nelayan berebut menceburkan diri ke laut. Mereka berebut mendapatkan sesaji. Selain itu, nelayan juga menyiramkan air yang dilewati sesaji ke seluruh badan perahu. "Kami percaya air ini
menjadi pembersih malapetaka dan diberkati ketika melaut nanti," kata Mat Roji, sesepuh nelayan Muncar. Sesudah itu mereka kembali ke darat



Sebelumnya, saat upacara pembukaan acara Petik laut Muncar,  Bupati Anas sempat berpesan kepada para nelayan agar tidak lupa menyisihkan sebagian rezeki yang didapat untuk menyantuni anak yatim dan fakir miskin yang ada di lingkungan sekitar mereka. (Humas dan Protokol)

sumber: www.banyuwangikab.go.id
Special thanks to yang upload videonya

Fenomena Takbir Keliling di Muncar

Takbir keliling dengan menggunakan truk dengan full sound system terbaik yang ada di Banyuwangi merupakan Kegiatan rutin tahunan masyarakat Muncar khususnya di desa Tembokrejo dan Sumbersewu Bahkan kalo sudah mendekati hari lebaran saya dan team Gandrung Hill  remaja Gumuk Gandrung di bawah naungan Remaja Masjid Baithul Huda Palurejo Tembokrejo sangat susah untuk mencari sound system yang punya suara jozz dan menggetarkan jalanan sepanjang desa kami dengan suara-suara Takbir merayakan hari kemenangan

Tidak sedikit remaja-remaja yang hanya menonton dan cuek dengan kegiatan ini,Mahal itu jawabnya
karena untuk menyewa Truk dan Sound system yang bagus saja kurang lebih menghabiskan dana sekitar 3-5juta rupiah,Tahun lalu kami menghabiskan dana 5,7 jt yang kami kumpulkan dari kocek anggota Gandrung Hill dan dari bantuan teman-teman di perantauan hal ini butuh dukungan semua pihak baik masyarakat sekitar dan donatur dan para Dermawan untuk melancarkan kegiatan kami,walau mahal menurut kami hal ini adalah melestarikan tradisi generasi-generasi sebelum kami,maka akan kami lestarikan sampai anak cucu kami




Malam Semakin Larut,Suara Takbir mulai menggema di setiap sudut masjid suara-suara Takbir dari berbagai kelompok2 pemuda Muncar mulai Berkumandang dengan ornamen dan Sound System menggelagar dari berbagai desa-desa di Muncar Pertanda bahwa puasa ramadhan sudah selesai untuk tahun ini dan meraih kemenangan untuk esok hari,sekitar 150 Truk lengkap dan membuat hati berdebar berkumpul di lapangan desa Sumbersewu untuk di data dan di cek oleh panitia Takbir Keliling PHBI (peringatan hari besar islam) selanjutnya iring-iring an akan melewati seluruh desa-desa di Kecamatan Muncar




Terima Kasih Kepada Bapak-Bapak Polisi yang selama ini selalu  mengawal Kami pawai takbir keliling selama melintas di jalan raya dan sampai kegiatan ini selesai,Saya berharap kepada Pemerintah khususnya di Kecamatan Muncar untuk Tidak melakukan larangan bagi warga untuk melakukan arak-arakan pada Malam Takbiran sampai kapanpun juga !,seperti yang sudah di berlakukan pada kota-kota  lain,siapapun yang menjadi Kapolsek dan Camat Muncar harus mendukung kegiatan ini,karena Pawai iring-iringan takbir keliling merupakan Warisan,dan ini sudah menjadi Tradisi di tempat kami

Pengendalian pencemaran di kawasan Muncar

Sebagai anak yang lahir dan besar di Muncar tentu saja saya sangat memperhatikan setiap informasi terkait dengan kawasan Muncar,Anak bukan nelayan lagi sekarang ! karena sang anak sudah sibuk dengan Instalasi Hotspot,Instalasi Warnet dan game online di tempat bekerja dan belajarnya di salah satu ISP (internet service provider) di Bali,sebagai technical-support,tukang ngegame dan tukang ngeblog,tukang manjat tower dan tukang listrik,tukang bangunan,dan masih banyak yang bisa saya tukangi...hohohoho,doakan ya semoga saya tambah pinter dan menjadi seorang Sys Admin,sudah dulu curhatnya boz, kembali ke judul posting hari ini tentang Pengendalian pencemaran di kawasan Muncar


artikel pertama saya kutip dari : http://suaramerdeka.com
 BANYUWANGI - Penataan kawasan dan pelaksanaan program pengendalian pencemaran lingkungan memerlukan komitmen bersama antara masyarakat dan pemerintah. Keduanya tidak dapat berjalan sendiri-sendiri. Apalagi jika program itu dikaitkan dengan perbaikan ekonomi masyarakat.

Menteri Negara Lingkungan Hidup Gusti M Hatta dalam dialog terbuka dengan masyarakat di Kecamatan Muncar, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur mengatakan, untuk merumuskan program dan rencana kegiatan pengendalian pencemaran lingkungan kedua belah pihak harus duduk bersama. ”Pengendalian pencemaran lingkungan di Muncar memerlukan komitmen bersama untuk merumuskan program dan rencana kegiatan yang terpadu dan berkesinambungan bagi perbaikan ekonomi dan lingkungan di Kabupaten Banyuwangi dan Muncar khususnya,”kata Gusti M Hatta dalam dialog pada Minggu (10/07).

Dalam dialog yang melibatkan sejumlah nelayan serta pengusaha ikan di Muncar, topik yang paling menyita perhatian adalah tentang mulai langkanya ikan di perairan Muncar. Padahal, kawasan Muncar terkenal sebagai sentra pendaratan ikan terbesar dan industri pengolahan ikan di Jawa Timur.  Keberadaan Muncar  memberikan arti penting bagi Propinsi Jawa Timur karena memberikan kontribusi besar terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor perikanan.

Berdasarkan data yang ada, setiap hari ikan yang dibongkar di Muncar minimal 500 ton dan sekitar 90 persen  dipasok ke industri pengolahan ikan setempat. Data Sekretariat Kabinet RI menunjukkan, Muncar merupakan penghasil ikan terbesar di Jawa Timur dengan produksi ikan tahun 2010 sebesar 27.748 ton.

 Sayangnya, potensi besar tidak dapat dimaksimalkan lantaran banyak perusahaan perikanan di Muncar dalam melakukan aktivitas produksinya kurang memperhatikan pengelolaan limbah dari kegiatan produksi. Bisa tebak, akibat pencemaran tersebut produksi penangkapan menurun drastis.  ”Sekarang ikan sudah susah didapat. Bagaimana harus ditanggulangi? Rasanya perlu kita menggalakkan program perbaikan terumbu karang dan penanaman pohon bakau,” kata salah satu nelayan, peserta dialog.  Berdasarkan hasil penelitian terbaru Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Jakarta tahun 2010 terungkap, tingkat pencemaran sudah menjangkau kawasan perairan Muncar sejauh 200 hingga 350 meter dari bibir pantai. Termasuk, sungai-sungai di Muncar yang dijadikan tempat pembuangan limbah seperti Kali Mati, Kali Tratas, dan Kali Moro. Kondisi kali tersebut cukup parah. Bank Sampah

Sebelumnya  Gusti Muhammad Hatta dalam peresmian Bank Sampah Pace Sewu di Pacitan Jatim mengatakan, sampah tidak berbeda jauh seperti benda yang mempunyai nilai ekonomis dan dapat ditabung. Dengan pola berpikir seperti itu, masyarakat terutama anak-anak akhirnya terdidik untuk menghargai sampah sesuai jenis dan nilainya.

”Upaya ini juga bagian salah satu cara untuk memenuhi target pengurangan sampah nasional melalui daur ulang, dan pemanfaatan sampah sebesar 7 persen per tahun dapat tercapai” kata Gusti

 artikel kedua saya kutip dari :http://www.mediaindonesia.com
Kementerian Lingkungan Hidup memberi bantuan unit instalasi pengolahan air limbah (IPAL) komunal senilai Rp30 miliar untuk kawasan perikanan Muncar, Provinsi Jawa Timur guna mengendalikan pencemaran lingkungan.

Bantuan tersebut diserahkan Menteri Lingkungan Hidup Gusti Muhammad Hatta pada kunjungan kerjanya ke Muncar Provinsi Jawa Timur, Minggu (10/7).

Menteri melakukan pemantauan dan berdialog dengan masyarakat nelayan di kawasan Muncar yang terkenal sebagai sentra pendaratan ikan terbesar dan sentra industri pengolahan ikan di Jawa Timur.

IPAl tersebut akan dibangun pada 2012. Sebagai persiapan pembangunannya, saat ini akan dilakukan revisi terhadap detail engineering design (DED) IPAL, serta kajian kelembagaan pengelolaan IPAL tersebut.

Untuk itu, dibutuhkan komitmen dari pemerintah kabupaten serta pengusaha di Muncar untuk menjaga dan menjalankan IPAL tersebut sehingga pencemaran dari kegiatan di Muncar dapat diatasi.

Selain bantuan berupa IPAL komunal, Kementerian Lingkungan Hidup juga akan memberikan bantuan berupa tempat sampah terpilah serta mesin pencacah plastik untuk membantu pemerintah kabupaten serta masyarakat Muncar dalam mengatasi masalah sampah.

Ini merupakan salah satu upaya KLH mendukung program Minapolitan yang telah dicanangkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Muncar merupakan kawasan yang memberi kontribusi besar bagi perekonomian dan pendapatan asli daerah Provinsi Jawa Timur melalui berbagai kegiatan industri pengolahan ikan. Muncar merupakan penghasil ikan terbesar di Jawa Timur dengan produksi ikan pada 2010 sebesar 27.748 ton.

Produksi ikan olahan diekspor ke Eropa, Jepang, Uni Emirat Arab, Amerika Serikat, Australia, Singapura, dan Kanada sebanyak 1.562.249,72 kg per bulan dengan nilai uang sebesar Rp19,528 miliar lebih 
Shark Pictures, Images and Photos




Muncar Dibidik Jadi Kawasan Minapolitan

Banyuwangi - Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Banyuwangi, Hary Cahyo, mengatakan, Departemen Kelautan dan Perikanan akan mengembangkan Kecamatan Muncar di Banyuwangi, Jawa Timur, sebagai kawasan minapolitan, yakni kawasan perikanan terintegrasi,Konsep tersebut bertujuan meningkatkan sumber daya manusia, pendapatan nelayan serta kesejahteraan masyarakat sekitar Pelabuhan Ikan Muncar. Sebagai tahap pertama pengembangan minapolitan pada tahun ini pemerintah pusat dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur akan memperluas tempat labuh berkapasitas 900 kapal.



Sebab, tempat labuh saat ini hanya mampu menampung 50 kapal sehingga nelayan harus antre setiap kali melakukan bongkar ikan. Antrean bongkar ikan ini berakibat pada menurunnya kualitas ikan. "Ikan jadi kurang segar," kata dia kepada Tempo, Rabu (21/4).Padahal nelayan di Pelabuhan Ikan Muncar memberikan kontribusi tangkapan ikan lebih dari 30 ribu ton setahun. Sementara jumlah nelayan mencapai 13 ribu orang dengan 870 unit alat tangkap berbagai jenis


Menurut Hary, Pelabuhan Muncar saat ini diunggulkan pemerintah pusat pasca meredupnya hasil perikanan di Pelabuhan Bagansiapiapi. "Kita berharap Muncar bisa terus eksis," kata dia
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Banyuwangi, Sukirman, yang juga pengurus Asosiasi Cold Storege Muncar, mengatakan selama ini pendapatan nelayan tidak maksimal karena terbatasnya tempat labuh. Nelayan harus antre hingga tiga jam lebih untuk mendapat giliran bongkar ikan.
Akibatnya, kualitas ikan turun dan banyak ditolak oleh perusahaan pengalengan ikan. Nelayan akhirnya terpaksa menjual ikannya ke perusahaan penepungan yang harganya di bawah harga saat menjual ikan di perusahaan pengalengan. "Lebih dari tiga jam, kualitas ikan sudah turun," tutur dia.




sumber:.tempointeraktif.com

Sembulungan oh Tanjung Sembulungan


Semenanjung Sembulungan, nama semenanjung di ujung timur Pulau Jawa
Semenanjung Sembulungan terletak di sebelah timur Kecamatan Muncar
Sembulungan menjadi pembuangan sesaji setelah melaksanakan ritual acara petik laut
Lokasi dari Tanjung Sembulungan ini terpisah sedikit dengan daratan Muncar
Sembulungan masuk dalam kawasan wisata Taman Nasional Alas Purwo


Makam Sayyid Yusuf

Makam Sayid Yusuf terletak di semenanjung Sembulungan, Muncar. Sayit Yusuf dikenal sebagai tetua nelayan Muncar Pada setiap kegiatan petik laut Muncar, selalu diadakan ziarah ke Makam ini. Pada masa hidupnya, Sayid Yusuf menyukai Gandrung, sehingga kuburannya disebut dengan makam gandrung. Bahkan setiap acara Petik Laut, kesenian Gandrung dipentaskan di sini


masih banyak hal yang belom saya ketahui tentang tanjung sembulungan
hingga sekarang konon masih banyak hewan seperti,kera,harimau,banteng,ular dll
selain menyimpan mistik yang sangat terasa,karena masih masuk kawasan alas purwo
lokasi ini juga daerah penangkapan ikan lemuru,biasanya lemuru bergerombol disini
Lemuru berada di teluk Pangpang, dekat ujung Sembulungan dan semenanjung Senggrong di sisi pulau Jawa dan di Teluk Jimbaran Bali


View Tanjung Sembulungan in a larger map

PENGAWETAN IKAN MENGGUNAKAN COLD STORAGE


Ikan merupakan makanan yang mudah mengalami pembusukan. Apalagi di daerah tropis seperti Indonesia yang bersuhu relatif tinggi.Akan tetapi, umur penyimpanan ikan dapat diperpanjang dengan penurunan suhu. Bahkan ikan yang dibekukan dapat disimpan sampai beberapa bulan, sampai saat dibutuhkan ikan dapat dilelehkan dan diolah lebih lanjut oleh konsumen. Rantai aliran makanan beku atau rantai dingin (cold chain) umumnya terdiri dari : pembekuan, penyimpanan dalam gudang dingin, diangkut dengan mobil berpendingin (refrigerated truck), dipamerkan dalam lemari dingin di toko makanan, akhirnya disimpan di dalam freezer lemari es di rumah.

memandang indahnya pantai muncar

dulu masih kecil saya suka nongkrong di pinggir pantai muncar nungguin si mbah
memandangi indahnya pantai Muncar dengan perahu-perahunya dipenuhi Ornamen
pagi itu kita berangkat habis shubuh terus saya dibelikan nasi pecel campur rempeyek
kamu tunggu si mbah ya,jangan kemana-mana..kata si mbah sambil ngasih uang 500rupiah

Pembuat Perahu Ikan Keliling

si pemburu artikel-artikel informasi tentang nelayan Muncar  beraksi lagi..hehehe
kali ini saya dapat informasi tentang team pembuat perahu..pengen punya perahu sendiri
wah saya pengen bisa buat perahu sendiri,ajarin donk  pak Herman..ngarep mode on

beberapa tips memilih ikan segar

Tembokrejo adalah desa di kecamatan Muncar, Kabupaten Banyuwangi
Mayoritas Penduduk Desa Tembokrejo adalah Nelayan.dan Petani
Tembokrejo adalah  wilayah Perindustrian di kota Muncar
meliputi Industri Pengalengan Ikan, Industri Pakan Ternak, Industri Minyak Ikan
Industri Tepung Ikan, Coolstorage dan lain-lain.
Tembokrejo adalah wilayah yang langsung bersentuhan dengan Pesisir laut kota Muncar

ikan lemuru muncar




mau lihat ikan lemuru? datang aja ke muncar banyuwangi
penghasil ikan terbesar setelah bagan siapi-api sumatra
kecamatan muncar paling banyak memiliki pabrik pabrik pengolahan ikan
konon riwayat kerajaan blambangan ada di sekitar kecamatan ini

Gumuk Kantong



tempat ini adalah lokasi favorit saya karna cuman 1 kilometer dari rumah
selain ngirit di ongkos pemandanganya tidak kalah kok sama pantai sanur
bedanya yang datang kesini adalah wisatawan lokal aja..jarang ada bule
waktu masa kecilq lokasi di sekitar gumuk kantong sering dipakai Motocross
sekarang lokasi ini juga ada kolam renang untuk ngadem di siang hari

gadis muncar sexy



mantab bener judul nya..mbah google suka kata-kata sexy
judul ini saya lancarkan pada si mbah supaya lebih greng
menurut isu yang berkembang google sexy mau update pagerank
setelah melakukan pelacakan keyword blog ini..ada kata gadis
mantab juga yaaa >husst..kapan saya mengatakan gadis mbah?

petik laut muncar 2010




petik laut kali ini saya gak berada dirumah.looh anak nelayan dimana?
anak nelayan ini jarang pulang kampung ternyata,kebanyakan di luar kota
wew seperti bos aja yaa tugasnya di luar kota hohoho..kuli aja gaya
memang bagaimanapun seperti apapun hidup harus terus berjalan
walaupun harus dengan tangisan atau dengan kesedihan..waduh kok sedih hehehe
selanjutnya saya cuman pingin berbagi situasi petik laut muncar 2010

anak nelayan abis pulang kampung


melihat kampung halaman lumayan membuat hati ini bahagia berkumpul dengan keluarga
maklum selama ini hidup saya kebanyakan di luar rumah..cari pengalaman begitu kira2
membuat blog ini pun karna selain iseng juga sambil promosi kota dan kampungku
bahwa daerahku tuh penuh dengan dengan sejuta cerita dan sejuta sejarah dan budaya
ohh yaa ikan cumi-cumi seperti gambar diatas harganya 17 000/kilo ditempat ini
lumayan puass klo beli 50 000..rasanya manteb banget karna masih sangat segar

Nelayan Muncar Pertahankan Peralatan Tradisional



ADA kampung unik di Banyuwangi, perkampungan nelayan di Muncar. Nelayan yang mendiami kawasan pantai ujung timur Jawa ini hidup turun-temurun menjadi pelaut. Uniknya lagi, nelayan di sini hingga kini menolak menggunakan peralatan modern, walaupun mampu membeli yang supercanggih sekalipun.

Kegigihan Nelayan Muncar Menangkap Ikan



Ini adalah pelabuhan ikan Muncar di Banyuwangi, Jawa Timur. Muncar merupakan pelabuhan ikan terbesar kedua setelah Bagan Siapi-api di Provinsi Riau. Nelayan Muncar menghias perahu mereka dengan aneka warna yang mencolok, beserta berbagai ornamen lainnya yang menarik.

Petik Laut Pestanya Nelayan Muncar




DALAM tiap bulan Muharam atau Syuro dalam penanggalan Jawa, bukan hanya petani, nelayan pun menggelar ritual untuk memohon berkah rezeki dan keselamatan. Seperti yang dilakukan komunitas nelayan di Muncar, Banyuwangi, Senin (12/1). Mereka melarung sesaji ke tengah samudera dalam kegiatan petik laut.