Selamat Datang ! .
Tampilkan posting dengan label banyuwangi. Tampilkan semua posting

Pergulatan di Ujung Timur Pulau Jawa




Nelayan Muncar di Banyuwangi, Jawa Timur, bersiap melaut, Jumat (21/12). Nelayan Muncar masih menggunakan perahu dan alat tangkap tradisional untuk menjaring ikan.
Perahu Suhiran (45) perlahan merapat di Pelabuhan Muncar. Wajah-wajah pelaut terlihat lelah, tetapi mata mereka menyiratkan kegirangan. Inilah gambaran kehidupan di Muncar, daerah di ujung timur Pulau Jawa yang lekat dengan perikanan.

Hari itu, Senin (17/12), Suhiran dan nelayan lainnya panen raya. Puluhan ton ikan yang mereka bawa siap berpindah dari lambung kapal ke pabrik-pabrik sarden.
Aroma ikan segar langsung menyeruak begitu memasuki jalan utama kawasan itu. Jalur masuk ke dermaga, pasar, dan jalan besar sesak dengan orang- orang yang mengangkut ikan, es balok, keranjang bambu, dan jeriken bahan bakar minyak. Riuh pedagang, pembeli, dan anak buah kapal bercampur jadi satu. Pagi itu ikan melimpah. Semua orang bergairah bekerja setelah sekian lama paceklik.

Suhiran (45), pemilik perahu, tersenyum menyaksikan ratusan ikannya berpindah tangan ke pedagang. Pada hari itu perahu tradisionalnya berhasil menangkap 10 ton ikan sarden dari Selat Bali. Hanya dengan berkaus oblong, bersarung, dan bersandal jepit, ia pun melangkah ke bank untuk bertransaksi uang.
Muncar adalah kecamatan di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Letaknya di pesisir Selat Bali. Pada masa silam orang merujuk Muncar sebagai pelabuhan di Teluk Pangpang, bagian dari Kerajaan Blambangan. Kini Muncar berkembang sebagai salah satu pelabuhan ikan terbesar di Nusantara.
Suhiran adalah salah satu nelayan yang menikmati melimpahnya ikan di kawasan pelabuhan itu. Ia keturunan Bugis, kakek buyutnya datang ke Muncar jauh sebelum masa kemerdekaan.
Tidak hanya orang Bugis, kampung-kampung nelayan di Muncar juga dipenuhi pendatang, seperti orang Madura, Jawa, dan Mandar.


Muncar memang penuh dengan pendatang. Ratusan tahun lalu suku Madura, Bugis, Mandar, Melayu, China, Jawa, hingga kongsi dagang Inggris dan pasukan Belanda datang ke tempat ini untuk mencari kekayaan Blambangan, berdagang, dan merebut kekuasaan.
Kedatangan para pelaut Bugis dan Madura ke Muncar pada zaman dulu tercatat dalam buku Ujung Timur Jawa, 1763-1813: Perebutan Hegemoni Blambangan yang ditulis oleh sejarawan Universitas Gadjah Mada, Sri Margana.

Dikisahkan, pernah ada kapal besar milik English East India Company, kompeni dagang Inggris, yang merapat ke Blambangan pada Agustus 1766. Mereka membawa pelaut Bugis dan Madura di dalam ratusan perahu kecil. Pedagang Inggris itu menukar opium, senjata api, dan 2 ton bubuk mesiu dengan 10 koyan beras dan kerbau.

Perdagangan yang dibuka oleh Inggris itu membuat orang- orang China, Melayu, dan Mandar tertarik datang. Sebelum Inggris, pasukan dari Mataram, Bali, dan Belanda lebih dulu memasuki Blambangan. Awalnya mereka menetap sementara, tetapi akhirnya mereka hidup turun-temurun di pesisir, menikmati melimpahnya kekayaan laut Selat Bali.

Selama berabad-abad, Selat Bali memanjakan nelayan Muncar dengan ikan, terutama ikan lemuru. Pada 2000-2008, berdasarkan data Dinas Kelautan dan Perikanan Banyuwangi, pelabuhan ini memasok sedikitnya 60.000 ton ikan.

Ikan sebanyak itu tidak diambil dengan menggunakan perahu modern. Nelayan di Muncar masih setia memakai perahu tradisional, seperti jukung dan slereg. Jukung biasanya dipakai oleh nelayan kecil. Adapun slereg atau perahu ganda seperti milik Suhiran bisa berlayar jauh hingga ke Samudra Indonesia.
Slereg memang perahu pengejar ikan. Sekali berangkat, slereg yang jumlah kapalnya sepasang bisa memuat 40 awak kapal dengan kapasitas angkut ikan 25 ton. ”Era 2000-an, slereg hampir selalu penuh ikan saat mendarat lagi di pelabuhan,” kata Muhtadin, nelayan keturunan Madura.

Melimpahnya lemuru menarik para investor datang untuk membangun pabrik pengolahan ikan di Banyuwangi. Jadilah Muncar sebagai pusat industri pengalengan ikan di Nusantara. Industri pengolahan ikan skala kecil pun turut berkembang. Pabrik tepung ikan, minyak ikan, hingga gudang pendingin dan pemindangan memadati kawasan industri perikanan.
Muncar tak habis-habisnya memanjakan nelayan. Saat musim ikan reda, muncul ubur-ubur. Menurut Pamudji (33), nelayan Muncar keturunan Jawa, ubur-ubur biasanya dijual untuk diekspor ke Korea. Harganya tak kalah dengan ikan, Rp 10.000 per kilogram.
Mudahnya mendapatkan hasil laut di Pantai Muncar tidak lepas dari kondisi geografis Muncar. Kuatnya arus di Selat Bali membawa serta ikan dan biota laut lainnya ke Teluk Pangpang. Di sinilah nelayan menjaring ikan yang terseret arus dan terjebak ke teluk.


Sayangnya, potensi itu tak selamanya bisa dinikmati nelayan. Pada 2009-2011, perdagangan Muncar lumpuh total karena paceklik berkepanjangan. Paceklik yang biasanya hanya 1-2 bulan kini mendera sampai 2 tahun. Hasil tangkapan ikan merosot drastis dari 80.000 ton menjadi sekitar 20.000 ton. Nelayan menuding bahwa kerusakan lingkungan menjadi penyebab. Namun, pabrik besar menyalahkan perubahan iklim.
Tak hanya lemuru yang langka. Tongkol dan layar pun menghilang. Industri perikanan terpukul. Pabrik pengalengan menyusut dari 15 unit menjadi 7 unit. Sebagian bertahan dengan menggunakan lemuru impor. Kompleksitas industri di Muncar pun menjadi ironi. Ikan dari Muncar digantikan oleh ikan dari China.
Sumadi (46), salah satu awak buah kapal, bahkan menggadaikan sertifikat rumahnya dan menjual perhiasan istrinya.
Untunglah masa paceklik itu mulai terlewati. Namun, persoalan tetap membelit. Kerusakan lingkungan dan konsumerisme. Muaranya jelas: kemiskinan!

KOMPAS/SIWI YUNITA CAHYANINGRUM
sumber: kompas

Update Petik Laut Muncar 2012





Tradisi petik laut yang ditandai dengan melarung sesaji berupa kepala kerbau ke laut belum lama ini kembali digelar masyarakat nelayan di Banyuwangi, Jawa Timur.Ritual nelayan disalah satu pantai pelelangan ikan terbesar di Indonesia ini diadakan tiap tahun pada bulan Suro. Ribuan nelayan Muncar ikut ambil bagian

Ritual diawali iring-iringan sesaji utama di kapal Bitek berupa kepala kerbau, tiga ekor ayam, nasi enam warna keliling kampung. Di pimpin seorang pawang petik laut, sesaji kemudian diangkut kedalam perahu dibawa menuju lepas pantai.

Nelayan Muncar menggelar ritual petik laut sejak tahun 1901. Mereka percaya, jika petik laut tidak digelar dapat mendatangkan musibah. Sampai lepas pantai, pawang memberi aba-aba sebagai tanda sesaji saatnya dilarung. Para nelayan terjun merebut sesaji yang dianggap bisa mendapatkan berkah.


Videonya dibawah ini yaa



Artis Banyuwangi penyanyi Banyuwangi

SUMIATI
Kota Banyuwangi memiliki artis-artis lokal yang sangat populer di Banyuwangi ,dimana bahasa yang digunakan banyak menggunakan istilah bahasa “Using”, bahasa asli banyuwangi pribumi,Perkembangan kesenian musik banyuwangi kian meroket sejalan dengan waktu
Waktu saya masih kecil Artis yang pling populer adalah Sumiati,seorang legenda musik gending Kendang Kempul Banyuwangi,Loro Sesigar,Ulan Andung Andung,jaran ucul merupakan lagu2 yang  saya sukai


Alah nagut, riko ngloro ati
Janjine riko nyulayani
Weruho gedigi sing arep kenalan
Wis kadhung ati loro sesigar

Sopo wonge sing kantru-kantru
Loro siji, krosone sewu
Gelang alit…, ring driji kiwo
Kembang mawar, digowo wong liyo




CATUR ARUM
selanjutnya di waktu saya pertama2 kali saya merantau artis yang satu ini melejit dengan lagu layangan dan tetese eluh,penyanyi sekaligus pencipta lagu banyuwangi sudah banyak lagu asyik dia ciptakan
Kepingin seru ketemu…, eman
Nong kembang hang biso ngundang atine
Kadhung urip nong endi sangkane
Dhung wis mati, nong endi paesane

Arep sun kirim kembang,
Hang wangi gandhane
Arep sun kirim gendhing,
Nawi tah biso nentremaken atine


Reny Farida 
Artis yang satu  ini juga terkenal pada era nya dengan lagu yang saya suka adalah bokong semok
Aran bokong, nongko sesigar
Aran alis, nanggal sepisan
Kulit kuning lare kuning langsat
Gawe hang nyawang ngelek idu goro’an asat

Bokong semok, bokonge sopo
Eman-eman moto sing dienggo ndeleng
Lambe sesigar lare sigar kepundung
Gawe gereget kudu-kudu kepingin nyethot


DIAN RATIH
Artis yang satu  ini juga terkenal pada era nya dengan lagu yang saya suka adalah stasiun argopuro
Jagung yo bakarane, sing tanggung perkarane
Rino bengi nggoleti, mergo abot ring ati

Nunggu ring stasiun, isun koyo wong linglung
Riko panggah singono, kari tego suloyo

Duh eman awak kulo, ono ndonya ketibo loro

Stasiun argopuro, numpak sepur nang suroboyo
Isun keloro-loro, ati ancur mikirno riko


Adistya Mayasari
Artis yang satu  ini juga terkenal pada era nya dengan lagu yang saya suka adalah Kangen
Sing biyasah riko tinggal kari adoh
Sing biyasah riko tinggal kari suwi
Gawe isun seru kangene, seru kangene

Kabarono kabar riko
Makne kego atinisun
Makne kangen hang sun roso
Yo sing kari seru nyikso

Njaluk tulung tambanono
Nguntupo sedhelo bain
Mesemo sak unyik bain
Masiyo mung no ring impi

Ratna Antika
Artis yang satu  ini juga terkenal pada era nya dengan lagu yang saya suka adalah Duh Senenge
Mandaneo kelakon, isun nyanding riko
Umah-umah ambi riko

Mandaneo kelaksan, isun oleh riko
Laki rabi ambi riko

Emak lan bapak,hang nyekseni waktu nikahe
Emak lan bapak, ugo ndampingi ring wayah surupe

Duh senenge, duh senenge
Janur kuning awe-awe nong pelataran

Duh senenge, duh senenge
Uwong loro lungguh bareng nong kuwade


Artis yang satu  ini juga terkenal dengan lagu yang saya suka adalah SITI

siti sun kirimno gending 
gending hang biasa riko kumandangno
nawi kelawan gending iki
biso ndadekno welase ring ati





Petik Laut Nelayan di Kota Ikan Muncar 2011


BANYUWANGI –  Untuk memohon berkah rezeki dan keselamatan, masyarakat nelayan Muncar melangsungkan ritual Petik Laut di Pantai Muncar, (11/12). Menurut  ketua panitia penyelenggara, Ridiyanto, ritual Petik Laut juga dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur pada Tuhan atas rezeki yang telah didapat oleh para nelayan sepanjang satu tahun terakhir.  Ritual itu diikuti oleh ratusan nelayan yang mengiringi perahu githik yang berisi aneka esaji untuk dilarung ke laut.

Diceritakan Ridiyanto, ritual Petik Laut diawali dari pembuatan sesaji oleh sesepuh nelayan. Sesaji tersebut berisi berbagai jenis hasil bumi yang ditata dengan indah dalam perahu kecil yang disebut githik. Pada malam hari sebelum pelaksanaan Petik Laut, di tempat perahu  sesaji dipersiapkan dilakukan tirakatan. Di beberapa surau atau rumah juga diadakan pengajian atau semaan.


Menjelang siang, sesaji diarak menggunakan dokar menuju pantai. Ribuan warga berdiri di sepanjang jalan mengamati perjalanan sesaji ( ider bumi ). Begitu lewat, warga berhamburan mengikuti di belakang menuju pantai. Arak-arakan berakhir di tempat pelelangan ikan ( TPI ) Muncar, yang dihadiri jajaran Forum Pimpinan Daerah Banyuwangi dan pejabat setempat.

Sesaji yang tiba tersebut disambut oleh enam penari Gandrung. Setelah dibacakan doa oleh sesepuh nelayan sesaji kemudian diarak menuju perahu. Warga berebut untuk bisa naik perahu pengangkut sesaji. Namun, petugas membatasi penumpang yang ikut ke tengah. Sebelum diberangkatkan, Bupati Abdullah Azwar Anas diwajibkan memasang pancing emas di lidah kepala kambing. Hal itu karena Bupati Anas sebagai kepala daerah dianggap mewakili rakyatnya untuk memasangkan simbol permohonan berupa pancing emas agar nelayan diberi hasil ikan melimpah



Setelah sampai di tengah laut, dipimpin sesepuh nelayan, sesaji pelan-pelan diturunkan dari perahu. Teriakan syukur menggema begitu sesaji jatuh dan tenggelam ditelan ombak. Begitu sesaji tenggelam, para nelayan berebut menceburkan diri ke laut. Mereka berebut mendapatkan sesaji. Selain itu, nelayan juga menyiramkan air yang dilewati sesaji ke seluruh badan perahu. "Kami percaya air ini
menjadi pembersih malapetaka dan diberkati ketika melaut nanti," kata Mat Roji, sesepuh nelayan Muncar. Sesudah itu mereka kembali ke darat



Sebelumnya, saat upacara pembukaan acara Petik laut Muncar,  Bupati Anas sempat berpesan kepada para nelayan agar tidak lupa menyisihkan sebagian rezeki yang didapat untuk menyantuni anak yatim dan fakir miskin yang ada di lingkungan sekitar mereka. (Humas dan Protokol)

sumber: www.banyuwangikab.go.id
Special thanks to yang upload videonya

Muncar Dibidik Jadi Kawasan Minapolitan

Banyuwangi - Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Banyuwangi, Hary Cahyo, mengatakan, Departemen Kelautan dan Perikanan akan mengembangkan Kecamatan Muncar di Banyuwangi, Jawa Timur, sebagai kawasan minapolitan, yakni kawasan perikanan terintegrasi,Konsep tersebut bertujuan meningkatkan sumber daya manusia, pendapatan nelayan serta kesejahteraan masyarakat sekitar Pelabuhan Ikan Muncar. Sebagai tahap pertama pengembangan minapolitan pada tahun ini pemerintah pusat dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur akan memperluas tempat labuh berkapasitas 900 kapal.



Sebab, tempat labuh saat ini hanya mampu menampung 50 kapal sehingga nelayan harus antre setiap kali melakukan bongkar ikan. Antrean bongkar ikan ini berakibat pada menurunnya kualitas ikan. "Ikan jadi kurang segar," kata dia kepada Tempo, Rabu (21/4).Padahal nelayan di Pelabuhan Ikan Muncar memberikan kontribusi tangkapan ikan lebih dari 30 ribu ton setahun. Sementara jumlah nelayan mencapai 13 ribu orang dengan 870 unit alat tangkap berbagai jenis


Menurut Hary, Pelabuhan Muncar saat ini diunggulkan pemerintah pusat pasca meredupnya hasil perikanan di Pelabuhan Bagansiapiapi. "Kita berharap Muncar bisa terus eksis," kata dia
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Banyuwangi, Sukirman, yang juga pengurus Asosiasi Cold Storege Muncar, mengatakan selama ini pendapatan nelayan tidak maksimal karena terbatasnya tempat labuh. Nelayan harus antre hingga tiga jam lebih untuk mendapat giliran bongkar ikan.
Akibatnya, kualitas ikan turun dan banyak ditolak oleh perusahaan pengalengan ikan. Nelayan akhirnya terpaksa menjual ikannya ke perusahaan penepungan yang harganya di bawah harga saat menjual ikan di perusahaan pengalengan. "Lebih dari tiga jam, kualitas ikan sudah turun," tutur dia.




sumber:.tempointeraktif.com

Sembulungan oh Tanjung Sembulungan


Semenanjung Sembulungan, nama semenanjung di ujung timur Pulau Jawa
Semenanjung Sembulungan terletak di sebelah timur Kecamatan Muncar
Sembulungan menjadi pembuangan sesaji setelah melaksanakan ritual acara petik laut
Lokasi dari Tanjung Sembulungan ini terpisah sedikit dengan daratan Muncar
Sembulungan masuk dalam kawasan wisata Taman Nasional Alas Purwo


Makam Sayyid Yusuf

Makam Sayid Yusuf terletak di semenanjung Sembulungan, Muncar. Sayit Yusuf dikenal sebagai tetua nelayan Muncar Pada setiap kegiatan petik laut Muncar, selalu diadakan ziarah ke Makam ini. Pada masa hidupnya, Sayid Yusuf menyukai Gandrung, sehingga kuburannya disebut dengan makam gandrung. Bahkan setiap acara Petik Laut, kesenian Gandrung dipentaskan di sini


masih banyak hal yang belom saya ketahui tentang tanjung sembulungan
hingga sekarang konon masih banyak hewan seperti,kera,harimau,banteng,ular dll
selain menyimpan mistik yang sangat terasa,karena masih masuk kawasan alas purwo
lokasi ini juga daerah penangkapan ikan lemuru,biasanya lemuru bergerombol disini
Lemuru berada di teluk Pangpang, dekat ujung Sembulungan dan semenanjung Senggrong di sisi pulau Jawa dan di Teluk Jimbaran Bali


View Tanjung Sembulungan in a larger map

Durian merah menjadi primadona Banyuwangi


Dari seluruh jenis durian yang hidup di Banyuwangi, durian merah paling jadi unggulan. Merujuk pada namanya, durian merah berarti dagingnya berwarna merah. Menurut Pengamat Holtikultura, Eko Mulyanto, durian jenis ini juga ditemukan di pedalaman Kalimantan. Namun rasa durian merah di Banyuwangi lebih manis dan legit.

Secara fisik, biji durian merah kecil tapi dagingnya tebal dan lembut. Harganya lebih mahal dibanding durian yang dagingnya berwarna kuning atau putih. Untuk durian merah kecil seberat 1 kilogram, harganya Rp 25 ribu. Paling besar dengan berat 2 kilo lebih, bias mencapai Rp 50 ribu.

Durian merah lebih mahal karena tanamannya tergolong langka.Hanya ada dua pohon yang tumbuh di Banyuwangi. Satu pohon dimiliki Sulaimi, warga Desa Balak, Kecamatan Songgon. Sementara lainnya tumbuh di halaman rumah Serad, warga Desa Kemiren, Kecamatan Glagah.


Kedua pohon durian itu dipercaya berusia ratusan tahun. Sulaimi (75), menuturkan, pohon durian merahnya justru lebih unik. Dari dalam tanah, katanya, muncul dua pohon yang mirip percabangan. Satunya berwarna merah, lainnya berwarna putih. "Karena itu saya namain durian merdeka," tuturnya sambil tertawa.

Dalam satu pohon, kata dia, bisa menghasilkan sedikitnya 150 buah durian merah. Setiap kali panen, durian selalu menjadi buruan. Menurut Sulaimi, masyarakat meyakini durian merah berkhasiat untuk menambah vitalitas lelaki. "Supaya stamina tetap fit," ujar kakek yang sudah turun temurun berjualan durian ini

sumber:http://www.jurnalbesuki.com/



Semua orang pasti mengenal buah durian. Tapi, kalau durian berwarna merah pasti belum banyak yang mengetahui. Bahkan, mungkin, sulit mempercayainya.

Durian berwarna merah bukan isapan jempol. Buah itu benar-benar ada, tepatnya tumbuh di Desa Kemiren Banyuwangi, Jawa Timur. Bahkan begitu sohornya, salah satu gang di desa itu dinamakan Gang Duren Abang alias Gang Durian Merah.

Adalah Serad, warga Desa Kemiren, yang mempunyai satu-satunya pohon durian berbuah merah. Tak heran bila musim durian tiba rumah Serad tak pernah sepi pengunjung. Apalagi durian merah sudah menjadi buah primadona warga.

Menurut Serad, durian merah lebih manis dan gurih dibanding buah sejenis umumnya. Bahkan, tambah dia, durian merah dipercaya bisa meningkatkan vitalitas kaum pria.

Begitu terkenalnya, peminat durian merah banyak yang datang dari luar Banyuwangi. Pantas saja Sirad hanya menyuguhkan sebuah durian merah untuk dimakan bersama. Alasannya agar semua pengunjung bisa menikmati durian merah. Jadi jangan harap bisa membawanya pulang. Biasanya pengunjung hanya membawa pulang biji durian untuk dijadikan benih. Anda ingin mencoba?

sumber:http://berita.liputan6.com

Pulau merah "Red Island"


Pulau merah merupakan wisata pantai yang terletak diujung selatan Banyuwangi
Pantai ini sangat alami karena salah satu lokasi wisata di kawasan pantai selatan yang masih alamiah,
Pantai Pulau Merah juga memiliki ombak yang bagus untuk surfing. Ketika laut surut, para pengunjung dapat mengunjungi tempat ini dengan berjalan kaki menikmati eunikan berupa gunung kecil yang berada ditengah pantai yang warna tanahnya berwarna merah, karena itu dinamakan pantai Pulau Merah

kembang-kembang kertas



mekare reng singojuruh eman
kawitan buru ketemu kembang kertas ajum warnane
klidang klidung ngokor lorong nyonggo roso atine bingung

Melihat Bedul Wisata Mangrove Banyuwangi

 Adik saya yang perempuan seneng sekali jalan-jalan kesini bersama teman2 nya
Wisata Bedul yang berjarak sekitar 50 KM dari pusat dari Kota Banyuwangi..lumayan jauh
Bagi anda yang suka berpetualang, belum lengkap bila belum menjajal keelokan wisata air di pesisir pantai selatan Banyuwangi, Jatim. Pantai Bedul namanya. Letaknya, tidak jauh dari dari pantai Grajagan dan pantai Plengkung, di kawasan taman nasional Alas Purwo

Pesona Keindahan Kawah Ijen


Kawasan Wisata Kawah Ijen terletak di tengah area cagar alam Kawah Ijen yang masuk dalam wilayah Kabupaten Bondowoso, Kecamatan Klobang dan Kabupaten Banyuwangi

Seblang atau Tari Seblang


Anak Banyuwangi kemana saja woy..budaya daerah sendiri tidak tahu...huhuhu
mulai kecil bahkan sudah dewasa bahkan hampir diriku punya anak...eaaaaa

Watu Dodol dan patung Gandrung

                                                                    watu dodol
Batu ini menjadi unik karena memiliki sejarah sendiri dan cerita mistik di dalamnya. Daerah ini pernah dijadikan sebagai tempat pertahanan dan perlidungan tentara Jepang ketika Perang Dunia II. Karena dianggap mengganggu, batu yang berdiameter sekitar 10 pelukan orang dewasa ini oleh tentara Jepang

Kerajaan Blambangan

ngantuk banget malam ini,padahal sudah minum kopi
mungkin sudah dari sononya kalo saya ngantuk tapi susah tidur
mungkin juga dari sononya kalo saya memang suka artikel2 sejarah
apalagi cerita sejarah tentang bumi Blambangan,sekarang Banyuwangi

Asal Usul nama kota Banyuwangi

Pada zaman dahulu di kawasan ujung timur Propinsi Jawa Timur terdapat sebuah kerajaan besar yang diperintah oleh seorang Raja yang adil dan bijaksana. Raja tersebut mempunyai seorang putra yang gagah

cctv pelabuhan gilimanuk


mau lihat kendaraan dan penumpang yang akan masuk dan keluar Bali
streaming cctv ketapang-gilimanuk dimana yaa
saya cari-cari di mbah google sampek luset,langsung ke tkp yuk

lareosing atau lare osing


lareosing adalah sebutan untuk remaja/pemuda dari banyuwangi asli
lareosing adalah terdiri dari kata ~lare~ dan kata ~osing~
kata lare artinya pemuda atau remaja..artinya sama dengan anak,bocah,arek
seperti di surabaya biasa dengan arek-arek suroboyo atau malang arek-arek malang
banyuwangi terbiasa dengan lare-lare banyuwangi atau biasa disebut dengan laros

ketapang-gilimanuk



ceritanya kemarin habis mudik lagi..kok sering bolak-balik jawa-bali pp
begitulah nasibku hampir 1 minggu sekali pulang dan pergi lagi
menurutku dari Banyuwangi menuju Bali seperti ke warung sebelah e e e
sudah terbiasa jalan ini saya lalui jadi gak seberapa terasa jauh
tetap semangat dan ambil kamera sambil lirik kanan kiri ceprat-cepret

Gadis Banyuwangi


menikmati pemandangan indahnya pantai Muncar sambil mencari inspirasi
inginku mencari kerang dan menyelam mencari rajungan seperti masa lalu
teringat waktu pertama kali kenal si dia yang cantik Gadis Banyuwangi

G-Land Surfing,Pantai Plengkung Banyuwangi

Untuk Anda penggemar olahraga surfing yang menginginkan sebuah pengalaman-
yang menguras adrenalin, bersiaplah untuk berkunjung ke sebuah pantai di Jawa Timur.
G-Land, The Seven Giant Waves Wonder" Julukan tersebut diberikan oleh peselancar asing utk gulungan ombak di pantai Plengkung yg berlokasi di Taman Nasional Alas Purwo (TNAP), Banyuwangi, Jawa Timur. G punya tiga konotasi yg berbeda: Green, krn lokasinya di tepi hutan, Grajagan, nama point terdekat sebelum ada jalan melintas di hutan atau Great krn salah ombak yg terbaik di dunia. Apapun artinya, itulah julukan buat sebuah nama lokal bernama Plengkung