Selamat Datang ! .

Seblang atau Tari Seblang


Anak Banyuwangi kemana saja woy..budaya daerah sendiri tidak tahu...huhuhu
mulai kecil bahkan sudah dewasa bahkan hampir diriku punya anak...eaaaaa
saya belom pernah melihat Seblang..kemana saja diriku selama ini...waduh waduh
mungkin karena diriku jarang pulang untuk waktu yang lama di rumah...nasib nasib
namun alhamdulliah saya cukup senang masih bisa berbagi info dengan anda teman-teman



Ritual Seblang adalah salah satu ritual masyarakat Using yang hanya dapat dijumpai di dua desa dalam lingkungan kecamatan Glagah, Banyuwangi, yakni desa Bakungan dan Olihsari. Ritual ini dilaksanakan untuk keperluan bersih desa dan tolak bala, agar desa tetap dalam keadaan aman dan tentram. Ritual ini sama seperti ritual Sintren di wilayah Cirebon, Jaran Kepang, dan Sanghyang di Pulau Bali.

Penyelenggaraan tari Seblang di dua desa tersebut juga berbeda waktunya, di desa Olihsari diselenggarakan satu minggu setelah Idul Fitri, sedangkan di desa Bakungan yang bersebelahan, diselenggarakan seminggu setelah Idul Adha.

Para penarinya dipilih secara supranatural oleh dukun setempat, dan biasanya penari harus dipilih dari keturunan penari seblang sebelumnya. Di desa Olihsari, penarinya haruslah gadis yang belum akil baliq, sedangkan di Bakungan, penarinya haruslah wanita berusia 50 tahun ke atas yang telah mati haid (menopause).

Tari Seblang ini sebenarnya merupakan tradisi yang sangat tua, hingga sulit dilacak asal usul dimulainya. Namun, catatan sejarah menunjukkan bahwa Seblang pertama yang diketahui adalah Semi, yang juga menjadi pelopor tari Gandrung wanita pertama (meninggal tahun 1973). Setelah sembuh dari sakitnya, maka nazar ibunya (Mak Midah atau Mak Milah) pun harus dipenuhi, Semi akhirnya dijadikan seblang dalam usia kanak-kanaknya hingga setelah menginjak remaja mulai menjadi penari Gandrung.

Tari Seblang ini dimulai dengan upacara yang dibuka oleh sang dukun desa atau pawang. Sang penari ditutup matanya oleh para ibu-ibu yang berada dibelakangnya, sambil memegang tempeh (nampan bamboo). Sang dukun mengasapi sang penari dengan asap dupa sambil membaca mantera. Setelah sang penari kesurupan (taksadarkan diri atau kejiman dalam istilah lokal), dengan tanda jatuhnya tempeh tadi, maka pertunjukan pun dimulai. Si seblang yang sudah kejiman tadi menari dengan gerakan monoton, mata terpejam dan mengikuti arah sang pawang atau dukun serta irama gendhing yang dimainkan. Kadang juga berkeliling desa sambil menari. Setelah beberapa lama menari, kemudian si seblang melempar selendang yang digulung ke arah penonton, penonton yang terkena selendang tersebut harus mau menari bersama si Seblang. Jika tidak, maka dia akan dikejar-kejar oleh Seblang sampai mau menari.

Musik pengiring Seblang hanya terdiri dari satu buah kendang, satu buah kempul atau gong dan dua buah saron. Sedangkan di Olihsari ditambah dengan biola sebagai penambah efek musikal.




Dari segi busana, penari Seblang di Olihsari dan Bakungan mempunyai sedikit perbedaan, khususnya pada bagian omprok atau mahkota.

Pada penari Seblang di desa Olihsari, omprok biasanya terbuat dari pelepah pisang yang disuwir-suwir hingga menutupi sebagian wajah penari, sedangkan bagian atasnya diberi bunga-bunga segar yang biasanya diambil dari kebun atau area sekitar pemakaman, dan ditambah dengan sebuah kaca kecil yang ditaruh di bagian tengah omprok.

Pada penari seblang wilayah Bakungan, omprok yang dipakai sangat menyerupai omprok yang dipakai dalam pertunjukan Gandrung, hanya saja bahan yang dipakai terbuat dari pelepah pisang dan dihiasi bunga-bunga segar meski tidak sebanyak penari seblang di Olihsari. Disamping unsure mistik, ritual Seblang ini juga memberikan hiburan bagi para pengunjung maupun warga setempat, dimana banyak adegan-adegan lucu yang ditampilkan oleh sang penari seblang ini.


sumber:wikipedia.org/wiki/Seblang
foto:album.banyuwangikab.go.id/budaya

12 komentar:

  1. wah baru pertama kali denger nih sob aku :))
    oya anak nelayan aku udah follow sob, aku tunggu follow backnya yaa :D

    BalasHapus
  2. sekarang para remaja...kiblatnya udah lain....om..so..tradisi para leluhur..udah banyak yang melupakannya...

    BalasHapus
  3. wah aku baru tau tuch ada tarian itu >.<

    BalasHapus
  4. Seblang!? Aku seneng Cak....!!! Tapi kadang jadi agak merinding...wedhiiii... katanya bisa "ndadi" yen sudah asyik menari..benarkah???

    BalasHapus
  5. kayanya jarang dipublikasikan...jadi blum banyak yang tahu sob...

    BalasHapus
  6. Mksih infonya mas, saya baru tahu tari seblang dari banyuwangi..

    BalasHapus
  7. saya baru pertama denger ne sob, mari kita jaga dan lestarikan budaya² negeri ini
    Sukses Slalu!

    BalasHapus
  8. Seperti Jaran Kepang gitu ya... ngeri. trus kalo penonton yg diajak nari ikut kesurupan?

    BalasHapus
  9. belom pernah nonton ritual seblang yaa ?

    BalasHapus
  10. @anak banyuwangi ..belom pernah nonton langsung sob

    BalasHapus

terima kasih atas komentar Anda
jangan lupa besok kembali lagi ya