Selamat Datang ! .

Pengendalian pencemaran di kawasan Muncar

Sebagai anak yang lahir dan besar di Muncar tentu saja saya sangat memperhatikan setiap informasi terkait dengan kawasan Muncar,Anak bukan nelayan lagi sekarang ! karena sang anak sudah sibuk dengan Instalasi Hotspot,Instalasi Warnet dan game online di tempat bekerja dan belajarnya di salah satu ISP (internet service provider) di Bali,sebagai technical-support,tukang ngegame dan tukang ngeblog,tukang manjat tower dan tukang listrik,tukang bangunan,dan masih banyak yang bisa saya tukangi...hohohoho,doakan ya semoga saya tambah pinter dan menjadi seorang Sys Admin,sudah dulu curhatnya boz, kembali ke judul posting hari ini tentang Pengendalian pencemaran di kawasan Muncar


artikel pertama saya kutip dari : http://suaramerdeka.com
 BANYUWANGI - Penataan kawasan dan pelaksanaan program pengendalian pencemaran lingkungan memerlukan komitmen bersama antara masyarakat dan pemerintah. Keduanya tidak dapat berjalan sendiri-sendiri. Apalagi jika program itu dikaitkan dengan perbaikan ekonomi masyarakat.

Menteri Negara Lingkungan Hidup Gusti M Hatta dalam dialog terbuka dengan masyarakat di Kecamatan Muncar, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur mengatakan, untuk merumuskan program dan rencana kegiatan pengendalian pencemaran lingkungan kedua belah pihak harus duduk bersama. ”Pengendalian pencemaran lingkungan di Muncar memerlukan komitmen bersama untuk merumuskan program dan rencana kegiatan yang terpadu dan berkesinambungan bagi perbaikan ekonomi dan lingkungan di Kabupaten Banyuwangi dan Muncar khususnya,”kata Gusti M Hatta dalam dialog pada Minggu (10/07).

Dalam dialog yang melibatkan sejumlah nelayan serta pengusaha ikan di Muncar, topik yang paling menyita perhatian adalah tentang mulai langkanya ikan di perairan Muncar. Padahal, kawasan Muncar terkenal sebagai sentra pendaratan ikan terbesar dan industri pengolahan ikan di Jawa Timur.  Keberadaan Muncar  memberikan arti penting bagi Propinsi Jawa Timur karena memberikan kontribusi besar terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor perikanan.

Berdasarkan data yang ada, setiap hari ikan yang dibongkar di Muncar minimal 500 ton dan sekitar 90 persen  dipasok ke industri pengolahan ikan setempat. Data Sekretariat Kabinet RI menunjukkan, Muncar merupakan penghasil ikan terbesar di Jawa Timur dengan produksi ikan tahun 2010 sebesar 27.748 ton.

 Sayangnya, potensi besar tidak dapat dimaksimalkan lantaran banyak perusahaan perikanan di Muncar dalam melakukan aktivitas produksinya kurang memperhatikan pengelolaan limbah dari kegiatan produksi. Bisa tebak, akibat pencemaran tersebut produksi penangkapan menurun drastis.  ”Sekarang ikan sudah susah didapat. Bagaimana harus ditanggulangi? Rasanya perlu kita menggalakkan program perbaikan terumbu karang dan penanaman pohon bakau,” kata salah satu nelayan, peserta dialog.  Berdasarkan hasil penelitian terbaru Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Jakarta tahun 2010 terungkap, tingkat pencemaran sudah menjangkau kawasan perairan Muncar sejauh 200 hingga 350 meter dari bibir pantai. Termasuk, sungai-sungai di Muncar yang dijadikan tempat pembuangan limbah seperti Kali Mati, Kali Tratas, dan Kali Moro. Kondisi kali tersebut cukup parah. Bank Sampah

Sebelumnya  Gusti Muhammad Hatta dalam peresmian Bank Sampah Pace Sewu di Pacitan Jatim mengatakan, sampah tidak berbeda jauh seperti benda yang mempunyai nilai ekonomis dan dapat ditabung. Dengan pola berpikir seperti itu, masyarakat terutama anak-anak akhirnya terdidik untuk menghargai sampah sesuai jenis dan nilainya.

”Upaya ini juga bagian salah satu cara untuk memenuhi target pengurangan sampah nasional melalui daur ulang, dan pemanfaatan sampah sebesar 7 persen per tahun dapat tercapai” kata Gusti

 artikel kedua saya kutip dari :http://www.mediaindonesia.com
Kementerian Lingkungan Hidup memberi bantuan unit instalasi pengolahan air limbah (IPAL) komunal senilai Rp30 miliar untuk kawasan perikanan Muncar, Provinsi Jawa Timur guna mengendalikan pencemaran lingkungan.

Bantuan tersebut diserahkan Menteri Lingkungan Hidup Gusti Muhammad Hatta pada kunjungan kerjanya ke Muncar Provinsi Jawa Timur, Minggu (10/7).

Menteri melakukan pemantauan dan berdialog dengan masyarakat nelayan di kawasan Muncar yang terkenal sebagai sentra pendaratan ikan terbesar dan sentra industri pengolahan ikan di Jawa Timur.

IPAl tersebut akan dibangun pada 2012. Sebagai persiapan pembangunannya, saat ini akan dilakukan revisi terhadap detail engineering design (DED) IPAL, serta kajian kelembagaan pengelolaan IPAL tersebut.

Untuk itu, dibutuhkan komitmen dari pemerintah kabupaten serta pengusaha di Muncar untuk menjaga dan menjalankan IPAL tersebut sehingga pencemaran dari kegiatan di Muncar dapat diatasi.

Selain bantuan berupa IPAL komunal, Kementerian Lingkungan Hidup juga akan memberikan bantuan berupa tempat sampah terpilah serta mesin pencacah plastik untuk membantu pemerintah kabupaten serta masyarakat Muncar dalam mengatasi masalah sampah.

Ini merupakan salah satu upaya KLH mendukung program Minapolitan yang telah dicanangkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Muncar merupakan kawasan yang memberi kontribusi besar bagi perekonomian dan pendapatan asli daerah Provinsi Jawa Timur melalui berbagai kegiatan industri pengolahan ikan. Muncar merupakan penghasil ikan terbesar di Jawa Timur dengan produksi ikan pada 2010 sebesar 27.748 ton.

Produksi ikan olahan diekspor ke Eropa, Jepang, Uni Emirat Arab, Amerika Serikat, Australia, Singapura, dan Kanada sebanyak 1.562.249,72 kg per bulan dengan nilai uang sebesar Rp19,528 miliar lebih 
Shark Pictures, Images and Photos