Berlokasi di ujung timur Pulau Jawa, PPP Muncar merupakan tempat pertemuan arus Laut Jawa dari arah utara dan Samudra Hindia melalui arah selatan. Kondisi tersebut menguntungkan karena para nelayan di Kecamatan Muncar tidak terpengaruh gelombang besar yang disebabkan baik angin barat maupun angin timur. Mereka hanya berhenti melaut saat bulan purnama tiba selama 7 hari hingga 10 hari
KETERTINGGALAN seolah identik dengan kondisi di Pulau Jawa bagian selatan. Pembangunan infrastruktur yang belum optimal membuat kawasan ini sulit berkembang. Padahal, potensi perikanan dan pariwisata yang terdapat di balik citra negatif itu bagaikan permata yang belum terasah.
Jawa Timur bagian selatan memiliki beberapa tempat pelelangan ikan dan pelabuhan laut yang mampu menggerakkan roda perekonomian. Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Muncar di Kabupaten Banyuwangi boleh dibilang yang paling menonjol.
Berlokasi di ujung timur Pulau Jawa, PPP Muncar merupakan tempat pertemuan arus Laut Jawa dari arah utara dan Samudra Hindia melalui arah selatan. Kondisi tersebut menguntungkan karena para nelayan di Kecamatan Muncar tidak terpengaruh gelombang besar yang disebabkan baik angin barat maupun angin timur. Mereka hanya berhenti melaut saat bulan purnama tiba selama 7 hari hingga 10 hari.
”Pada saat seperti itu jarang sekali ada ikan. Kami lebih memilih memperbaiki alat penangkap ikan dan kapal yang rusak,” kata Iksan (41), salah seorang nelayan, Sabtu (25/4). Setelah waktu libur usai, nelayan kembali berburu ikan laut. Lemuru, tongkol, salem, dan layang sebagai bahan dasar pembuatan ikan kaleng menjadi hasil laut andalan di perairan Muncar.
Pada saat paceklik tangkapan, seperti yang terjadi pada periode Januari-April, nelayan masih bisa memasok ikan-ikan itu ke puluhan cold storage (tempat pendinginan) di Muncar dan sekitarnya. Siswanto, pekerja di tempat pendinginan Usaha Dagang Piala Indah, menyebutkan, masih bisa mendapatkan pasokan 8-10 ton ikan lemuru, tongkol, salem, dan layang per hari selama masa paceklik.
Penurunan jumlah hingga 30 persen daripada saat panen tangkapan juga tak membuat para pengusaha tempat pendinginan berhenti mengekspor ikan lemuru kelas satu ke Jepang dan Thailand. ”Kalau pada saat musim panen Juni-November, kami bisa mengekspor ikan lemuru hingga tujuh kontainer (isi per kontainer 24 ton),” ungkap Siswanto.
Dengan harga jual Rp 4.500 per kilogram, pengusaha tempat pendinginan dapat meraup pendapatan kotor hingga Rp 300 juta per bulan, untuk penjualan 200 ton ikan lemuru. Omzet bisa meningkat tiga kali lipat saat berlangsung panen tangkapan.
Usaha tempat pendinginan mampu memberikan lapangan pekerjaan bagi ribuan warga. Menurut Ketua Asosiasi Pengusaha Cold Storage Muncar, Jafar, 26 tempat pendinginan rata-rata mempekerjakan 70 laki-laki dan perempuan. ”Ini membuat warga Muncar jarang yang menjadi tenaga kerja Indonesia di luar negeri,” ujarnya.
Potensi itu tentu saja dapat makin berkembang jika program pengembangan wilayah melalui pembangunan Jalur Lintas Selatan yang telah dicanangkan Pemerintah Provinsi Jawa Timur sejak tujuh tahun silam tuntas. Kian lunturnya embel-embel pelabuhan perikanan terbesar di Indonesia timur menunjukkan betapa lambatnya perkembangan Muncar. Departemen Kelautan dan Perikanan pun hanya memberi Muncar status sebagai PPP alias pelabuhan perikanan tipe C (kelas II).
Jumlah ikan yang didaratkan di PPP Muncar masih tertinggal dari beberapa pelabuhan perikanan, seperti Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Belawan (Sumatera Utara), PPS Cilacap, Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Brondong (Lamongan, Jawa Timur), dan PPN Prigi (Trenggalek, Jawa Timur).
Kisah diakronis produksi ikan di perairan Muncar dulu dan sekarang dapat dijelaskan Iksan (52), nelayan veteran yang memutuskan tak lagi mencari nafkah di lautan, sebagaimana dulu dilakukannya saat otot-otot lengannya masih kencang.
Pada saat krisis moneter 1998, ungkap Iksan, harga ikan lemuru sebagai bahan baku produk sarden kalengan yang paling dicari nelayan Rp 700 per kilogram. Ini sama dengan harga solar Rp 700 per liter waktu itu.
Kini, 11 tahun kemudian, semenjak dua kali kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), harga lemuru Rp 1.500 per kilogram, padahal harga solar sudah Rp 4.500 per liter. Ini berarti nilai tukar lemuru merosot terhadap BBM. BBM yang harganya diatur negara dan secara faktual menentukan harga barang konsumsi apa pun sebenarnya telah bersikap kejam kepada nelayan seperti Iksan. Namun, karena kuatnya produksi ikan di Muncar, nelayan seperti Iksan, meski harus berpindah profesi, tetap pula bisa bertahan hidup.Iksan pun lantas dengan entengnya berkomentar bahwa keadaan dulu lebih enak daripada sekarang. Padahal, profil opini politik Iksan itu tampak mewakili sikap warga Muncar umumnya, yang sesungguhnya apolitis terhadap perubahan politik negara. ”Di sini dulu PDI-P (2004), sekarang Demokrat,” katanya. Iksan dulu buruh nelayan, dan kini belantik (pedagang) ikan.
Iksan, sebagai belantik modal kecil, saat ini dalam sehari rata-rata bisa membeli 50 ember ikan dari buruh nelayan perahu slerek. Harga satu ember Rp 22.000-Rp 25.000. Harga perahu slerek sebagai unit produksi terbesar di Muncar paling murah Rp 1,2 miliar dan mempekerjakan 70-an nelayan.
Di tengah laut, para buruh memiliki kesempatan mengumpulkan ikan tercecer yang tidak dimasukkan dalam perut perahu slerek. Slerek yang berupa sepasang perahu itu bisa menyimpan dalam perut kapalnya 10–15 ton ikan semalam perjalanan melaut, atau setara dengan Rp 45 juta–Rp 60 juta pendapatan kotor sehari. Ikan-ikan tangkapan tidak semuanya bisa dimasukkan ke dalam perut perahu, kadang tercecer dalam jaring. Sisa ikan ini boleh dikumpulkan awak slerek, yang akan menjadi penghasilan tambahan mereka setelah dijual kepada belantik seperti Iksan.
Meski Muncar dapat disebut sebagai pasar perikanan tertua di Jawa Timur, pola produksinya masih sama dibandingkan dua dekade lalu. Hampir tidak ada modernisasi cara tangkap. Jalur lintas selatan Jawa yang sebentar lagi direalisasikan dan diyakini bakal memecahkan problem isolasi wilayah selatan Jawa, termasuk Muncar, mudah-mudahan bisa mendorong modernisasi produksi itu.
kutip dari kompas.com
hari ini badan saya agak lemes apa mungkin baru tidur kali yaaaa
seperti biasa bikin kopi sebentar sambil memutar lagunya marjinal
lagu ini adalah cerita tentang seorang penggerak buruh yang dibunuh secara tragis.sampai sekarangpun kejadian ini belum terkuak siapa pelaku dan motifnya.marjinal membuat lagu tersebut untuk mengenang jasa marsinah karena dimata buruh indonesia beliau adalah pahlawan aktifis buruh. demikian sekelumit ceritaku tentang marjinal, sebuah band yang peduli tentang sosial dan rakyat kecil.. terima kasih yachhhhhh!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!.
kulihat buruh perempuan berkeringat, membasahi bumi dan tenggelam. energi yang kau curahkan begitu besar yang kurasakan terhanyut dalam kesombongan terlupakan. gemerlap cahayamu membentangi garis kehidupan hanya lahir di caci maki kau hadapi. keringat dan ketenanganmu mengalir deras tak ternilai hanya tetes darah dan air mata yang kau terima. o o ho marsinah kau termarjinalkan. o o ho marsinah matimu tak sia-sia…
ohh yaa ada lagi lagunya marjinal yang saya sukai judulnya negri negri
negri ngeri
lihatlah negri kita yang subur dan kaya raya .sawah ladang terhampar luas samudra biru. tapi rataplah negri kita yang tinggal hanyalah cerita. cerita dan cerita menderita. pengangguran merebah luas, kemiskinan meraja lelah, pedagang kaki lima tergusur teraniaya. bocah-bocah kecil merintih, melambungkan mimpi di jalanan, buruh kerap menghadapi penderitaan. inilah negri kita malam yang gelap tiada berbintang dari derita dan derita menderita. sampai kapankah derita ini, yang kaya darah dan air mata yang senantiasa membanjiri bumi pertiwi
lihatlah negeri kita
Yang subur dan kaya raya
Sawah ladang terhampar luas
Samudera biru
Tapi lihatlah negeri kita
Yang tinggal hanyalah cerita
Cerita dan cerita, terus cerita…
Chorus:
Pengangguran merebak luas
Kemiskinan merajalela
Pedagang kaki lima tergusur teraniaya
Bocah-bocah kecil merintih
Menghabiskan waktu di jalanan
Buruh kerap dihadapi penderitaan
Inilah negeri kita
Alamnya kelam tiada berbintang
Dari derita dan derita menderita…
Sampai kapankah derita ini
Yang kaya darah dan air mata
Yang senantiasa mewarnai bumi pertiwi
sebuah lagu yang diciptakan oleh marjinal,sebuah band beraliran punk rock
45-60 juta? wow. cool, jadi nelayan ah. tapi kok masih banyak yangmengeluh dengan kekurangan ini itu padahal punya penghasilan segitu banyak????? mikir mode on
gambar perahunya indah sekali...nelayan dsana menangkap ikan pake perahu itu y sob... klo penghasilan segitu udah lbh dari cukup... nelayannya bisa kaya.... nelayannya bisa kayaaa.... nelayannya bisa kayaaaa.... nelayannya bisa kayaaaaa....
Mas, mau ambil ikan sambil mendengarkan lagu.. Kalau laut bisa menghasilkan segitu besarnya,kenapa yach nelayanmasih banyak yg dibawah standart? *ikut2an mikir mode on*
33 komentar:
waduh saya jadi kepingin sama ikannya mas, yummy :)
Yuk nyanyi bareng dengan Anak Nelayan....
ikanna lutu lutu... bakar satu kilo, bang!
wowww... cara dan tata letak postingannya menarik banget kang..
45-60 juta? wow. cool, jadi nelayan ah. tapi kok masih banyak yangmengeluh dengan kekurangan ini itu padahal punya penghasilan segitu banyak????? mikir mode on
aliran musik metal liriknya aliran iwanfals, kritis dan apa adanya.
wedew...kok anak nelayan naik speda, kemana perahunya???
gambar perahunya indah sekali...nelayan dsana menangkap ikan pake perahu itu y sob...
klo penghasilan segitu udah lbh dari cukup...
nelayannya bisa kaya....
nelayannya bisa kayaaa....
nelayannya bisa kayaaaa....
nelayannya bisa kayaaaaa....
negara maritim yang nelayanya kebanyakan miskin
Indonesia Indonesia
Indonesia negara lautnya banyak tapi nelayannya banyak dibawah garis kemiskinan. kenapa bia?
Mas, mau ambil ikan sambil mendengarkan lagu..
Kalau laut bisa menghasilkan segitu besarnya,kenapa yach nelayanmasih banyak yg dibawah standart? *ikut2an mikir mode on*
kasihan sekali ya. seharusnya nasib mereka diperjuangkan. tapi nyatanya yg kaya malah orang lain. duuuh....miris nih bacanya.
itu pendapatan kotor semalem mantep tuh. dikurangi biaya2, masih brp yah?
jalan-jalan di siang hari singgah sebentar mengambil napas sejenak..
salam kenal
wah lagi karaokean yah disini?
;)
anak nelayan banting stir jadi penyanyi nih??
wahhh besar juga ya pendapatannya...klu lingkungan laut kaya jaman dulu bisa lebih mungkin hasilny
nice share...
coba ceri deh ntar lagunya..
makasih sob...
saiia hadir kembali :)
back link kelar :)
thnx :)
Wah akhir-akhir ini bulan terang, dapat banyak sotong gak mas? hehehe
Salam kenal
emank dasarnya nenek moyang kita kan seorang pelaut y....kkkk
wah liriknya bagus boss
Teringat masa dahulu kala, tatkala IjoPunkJUtee bertiga pergi mancing bawa compo...je-DAG,je-DUG nonstop....Ikan bukannya mendekat tuk ajojing bersama malah kail kagak nyangkut apa2.....
kok aku jadi pengen berenang di laut ya
hehehehehe
nangkepinn ikan
wahhh.... saya kagum dengar lagunya,, siapa yang cipta?!?!
ikut dengerin ach...
aaaaa.... jadi pengen ikan bakar. nyam nyam...
sangar lah songnya
kerennnn
luchu
hehehe......mantaaaab dah
Kalo makan ikan bakar di pinggir pantai
sambil ngedengerin lagu itu romantis gak ya?
he..he
oh indonesiaku.....
malang nian nasibmu'
oooooooooooOOOOOOOOOOOoooooooo
wow banyak banget ya daya tampung slerek itu, sampe 60 juta omzetnya. Untung ga banyak bajak laut ya disitu..
Poskan Komentar
terima kasih atas komentar Anda
jangan lupa besok kembali lagi ya