Selamat Datang ! .

Kegigihan Nelayan Muncar Menangkap Ikan



Ini adalah pelabuhan ikan Muncar di Banyuwangi, Jawa Timur. Muncar merupakan pelabuhan ikan terbesar kedua setelah Bagan Siapi-api di Provinsi Riau. Nelayan Muncar menghias perahu mereka dengan aneka warna yang mencolok, beserta berbagai ornamen lainnya yang menarik.

Sebagian besar nelayan disini memulai perburuan menangkap ikan pada tengah hari dan pulang pada keesokan harinya, sehingga ikan yang didapat masih segar. Sekelompok nelayan ini tengah memperbaiki jaring, sebagai persiapan untuk melaut.
Mereka merupakan awak kapal penangkap ikan yang menggunakan jaring cincin. Jaring cincin merupakan alat penangkap ikan yang besar. Pengoperasiannya membutuhkan awak kapal yang banyak. Peralatan jaring cincin nelayan Banyuwangi terdiri dari dua kapal besar yang bergandengan, dan perangkat jaring yang panjangnya 300 sampai 500 meter, dengan lebar 10 meter.


Jumlah awak yang mengoperasikannya 50 orang. Pukul satu siang, saat ombak tidak terlalu besar dan cuaca cerah, merupakan saat yang paling tepat untuk memulai perburuan ikan.
Beginilah suasana saat perburuan dimulai. Sang nakhoda bernama Sabar, memimpin seluruh awak kapal menuju ke Selat Bali untuk mencari kawanan ikan tongkol. Mesin kapal dihidupkan. Kapal melaju dengan kecepatan sedang meninggalkan pelabuhan Muncar.

Satu kapal di depan berfungsi sebagai pemburu kawanan ikan. Di kapal ini dipasang delapan mesin tempel. Di kapal depan juga ditempatkan jaring dan awak kapal yang bertugas menarik jaring, jumlahnya lebih dari 40 orang.Delapan mesin digunakan agar kapal dapat berpacu kencang melebihi kecepatan kawanan ikan. Sehingga kawanan ikan permukaan yang hidup bergerombol seperti tongkol, lemuru maupun ikan layang tidak mampu menghindar dari jaring cincin.


Sementara kapal yang berada di belakang berfungsi sebagai penampung ikan hasil tangkapan.Jaring cincin digunakan karena kecepatan dan ketepatannya menangkap gerombolan kawanan ikan.
Sabar, sang nakhoda naik ke ujung tiang tinggi untuk mencari kawanan ikan. Matanya harus selalu awas mengamati gerombolan ikan. Bagi orang awam akan sulit melihat gerombolan ikan di tengah laut lepas, namun tidak bagi sabar, sang nakhoda.

Benar saja. Setelah berlayar lebih dari 4 jam, saat kapal tengah berada di perairan laut Bali, tiba-tiba kapal yang berada di depan melesat kencang, mengejar gerombolan kawanan ikan tongkol.
Tawur. Inilah sebutan nelayan Muncar saat jaring digelar. Seluruh awak kapal sibuk menggiring kawanan ikan, agar masuk ke dalam lingkaran jaring cincin yang digelar. Bahkan di antara awak kapal ada yang terjun ke laut.


Setelah jaring tertebar penuh, kapal akan berputar membentuk cincin. Awak kapal yang berjumlah 45 orang mulai menarik jaring bersama-sama. Waktu yang diperlukan menarik jaring ini cukup lama, bisa mencapai 3 hingga 4 jam.Untuk menambah semangat, para awak kapal menyanyi bersama-sama. Meskipyun syair lagunya tidak jelas. Kini saatnya kedua kapal saling merapat, dan kawanan ikan terkurung pada ruang sempit, sehingga terkumpul seperti ini.



Sensasinya benar-benar luar biasa saat kawanan ikan tongkol terkumpul dan dimasukkan ke tempat penampungan di lambung kapal. Sekitar 5 kwintal kawanan ikan tongkol tertangkap jaring pada tebaran jaring yang pertama. Ini termasuk tangkapan sedang, karena biasanya satu kali tebar dapat menjaring ikan lebih dari satu ton.

Perburuan dilanjutkan kembali. Dalam keadaan normal, tanpa terjangan ombak yang besar, nelayan sanggup menebar jaring sampai empat kali, dengan rata-rata hasil tangkapan 5 sampai 6 ton. Namun terkadang, hasil tangkapan bisa mencapai 10 ton dalam semalam.
Kapal selanjutnya kembali ke pelabuhan Muncar. Ikan hasil tangkapan disetorkan ke industri sarden, yang banyak terdapat di sekitar pelabuhan. (Helmi Azahari/Sup)


kutip dari indosiar.com







53 komentar:

  1. Subhanallah... ternyata, begitu sulitnya ketika berburu di lautan. Satu ekor ikan, mungkin sama dengan setitik peluh para nelayan. Nice blog..

    BalasHapus
  2. hidup nelayan!!! kehidupan nelayan indonesia seharusnya lebih baik en didukung peralatan yang lebih modern lg kasian amat kn nelayan indonesia selalu dianak tirikan di negara sendiri..uhh...dasar tuw bpk2 berdasi menjengkelkan...

    BalasHapus
  3. Tiada Pekerjaan Mudah Di Dunia, Tapi Pekerjaan Nelayan ini sungguh tidaklah Mudah

    BalasHapus
  4. Mereka benar-benar kompak dan bergotong-royong

    BalasHapus
  5. kok bisa tauuu?? emangnya kamuu nelayan yaa???

    BalasHapus
  6. hehehehehe..memang ni blog nelayan!!!!

    BalasHapus
  7. hehehehehe..memang ini adalah blog nelayan..heeeeeeee

    BalasHapus
  8. bisa kubayangkan....
    nice sharing sob, keep posting ya

    BalasHapus
  9. Para nelayan memang orangnya gigih bgt...

    BalasHapus
  10. wah... kayanya asyik ya nyobain jadi nelayan!

    BalasHapus
  11. Hmm keras betul yh khidupan para nelayan. Demi ank istri dan biaya hdupnya mereka gigih bekrja tdk bgtu mnghiraukan dirinya, yan ada dlm pikrannya hanyalah tngkapan ikan yng bnyk ketika plng setlah smalaman brlayar mncari ikan. Mudah2an jrih payah dn khidupan mereka dpt prthatian dr pmrintah.

    BalasHapus
  12. thanks atas kunjungannya salam kenal ... Nelayan memang patut di acungi jempol.. soalnya pernah ngikut teman nelayan melaut juga jadi tau suka dukanya ^^

    BalasHapus
  13. terima kasih buat para nelayan..karna perjuangannya aku jadi bsia makan ikan. I like fish so much

    BalasHapus
  14. nice blog..bisa kembali mengingatkan kita bahwa nenek moyang kita adalah pelaut..(tapi nelayan nggak ya?hehehe)

    thanks 4 sharing..berkunjung lah ke blogku dan mohon juga tinggalkan sedikit comment disana.hehe..

    BalasHapus
  15. tangkapan kakap merah ada gak.. kirim kesini dunk..

    BalasHapus
  16. ini baru.. I'm Popaye the sailormoon :)
    wewwww..

    BalasHapus
  17. mantab bos artikelnya..thanks

    BalasHapus
  18. aduh jadi mau nyobain naik perahu nelayan hehe

    BalasHapus
  19. tks ikannya. tks udah mampir.

    BalasHapus
  20. wah seru juga nih......ceritanya.......
    suasananya alamiyah jadi ingat kampung halaman.....

    BalasHapus
  21. suatu pekerjaan yang yang sangat aku banggakan so dulu akakek aku juga nelayan...heheheh

    BalasHapus
  22. mantap, serasa ikut melaut saat membacanya, thanks

    BalasHapus
  23. Banyak pengalaman neh ngeblog..
    tau juga ahirnya tentang para nelayan kita.. walo sedikit..

    BalasHapus
  24. Kereeen dech blognya, keren juga postingannya *two thumbs up*

    BalasHapus
  25. ajak jengsri mancing ya kapan2,hehehe

    BalasHapus
  26. wah salut ama perjuangan para nelayan. makasih ya karena kalian kami maem ikan..

    BalasHapus
  27. bener2 susah jadi nelayan.. tapi seru ngelihatnya.. :D salut banget.. jadi pengen mancing.. :D

    BalasHapus
  28. tahu tentang Muncar saat pelajaran geografi jaman sekolah dulu, tapi sejatinya belum pernah liat wujud pelabuhan itu.
    tapi dg postingan ini jadi tahu deh....
    makasih ya...

    BalasHapus
  29. Wah..blog bagus...n keren
    Makasih telah mapir di ariesvio
    Di kalianget dah 4 taun...nah dekat kan

    BalasHapus
  30. aku sing rabetah mung ambune
    lek ora ngrokok mesti munek2
    nyapo to kang kok wong muncar ki kok ora seneng enek wong nutupi irung? padahal kan mambu?
    termasuk penghinaan yo?

    BalasHapus
  31. Asyik... jadi pengen liat langsung nelayan mencari ikan, pasti seru

    BalasHapus
  32. duch...
    seRu tuh kyake...
    tp nita ga kuat ma bau-na...
    ^_^

    BalasHapus
  33. Wah muncar sih emang terkenal sob..
    hebat banget bisa 5-6 ton.. :D :D

    BalasHapus
  34. wkwkw..ngga nyammbung neh.. titanicnya luthu euy :D

    BalasHapus
  35. Nenek moyang kita memang pelaut yang tangguh... Dan para pelayar Muncar salah satu yg hebat...
    Nice posting friend..jadi kangen sama Kampung halaman ibuku ini... :)

    BalasHapus
  36. Salutttttttttt..............

    BalasHapus
  37. iya, hidup itu harus sabar dan tawakal, jangan namanya aja sabar, orang nya tempramental

    hidup adalah perbuatan...:kata prabowo"..hehe

    semangat, kita sama sama anak nelayan.....ayo bangkit bersama

    Yup !

    BalasHapus
  38. nenek moyang ku seorang
    gemar mengarung luas samudra
    heheheheehhe

    BalasHapus
  39. hi, submitted my site in your link widget :)

    BalasHapus
  40. sebenarnya gw tidak tau soal nelayan, tampaknya seorang nelayan sangat rajin bekerja keras

    BalasHapus
  41. karena itu aku masih cinta Indonesia
    hehehe... the best dehh
    artikelna bagus banget..

    semangat nelayann!!!
    jaya mahe ya

    BalasHapus
  42. Hidup dan sejahtera para nelayan-nelayan bangsa
    Terus bekerja giat untuk kemakmuran keluarga dan negara. Salut deh pada nelayan Muncar.

    BalasHapus
  43. iya mulai nakal sekarang...

    perbanyak total unique nya aja sob.

    BalasHapus
  44. Bagus sekali blognya..sedikit koreksinya mas, Bagan siapi- siapi itu bukan di Sumatera Utara tapi di Riau, kalau Sumatera utara kota Ikannya Tanjung Balai Asahan. Maaf mas.

    BalasHapus
  45. @Samsul Bahri
    terimakasih infonya..sudah saya ganti ke Provinsi Riau

    BalasHapus
  46. q sEbaGAi aReX MuNcaR ,,,cIaYo SeLAlU,,,

    BalasHapus
  47. wah,, sekali jaring langsung banyak :)

    BalasHapus
  48. cah muncar toh. salam kenal

    BalasHapus
  49. Makanan laut penuh dengan gizi ..sayang tdak semua rakyat Indonesia dapat menikmatinya

    BalasHapus

terima kasih atas komentar Anda
jangan lupa besok kembali lagi ya