Tak banyak yang menyadari bahwa sesungguhnya tembang ini bukan sekedar tembang dolanan biasa. Ada makna yang sangat dalam yang terkandung dalam tembang sederhana ini. Sekalipun demikian tidak ada yang tahu pasti siapa yang menciptakan tembang ini. Mungkin karena tembang ini sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Ada yang mengatakan penciptanya adalah salah seorang dari Wali Sanga atau Songo atau Sembilan Wali yang terkenal sebagai para penyebar Islam di tanah Jawa. Dari kesembilan waliyullah itu ada dua orang yang disebut-sebut sebagai penciptanya yaitu Sunan Ampel dan Sunan Kalijaga. Tetapi bila dilihat dari kedekatan Sunan Kalijaga dengan budaya Jawa dan fakta bahwa beliaulah pencipta beberapa kesenian Jawa yang digunakan sebagai alat syiar agama Islam. Maka bisa dianggap bahwa Sunan Kalijaga yang merupakan pencipta tembang ini.
Bagi mereka yang merupakan orang Jawa atau besar di Jawa mungkin sudah akrab dengan tembang Ilir-ilir, atau paling tidak pernah mendengarnya. Bagi mereka yang bukan orang Jawa pun mungkin pernah mendengar atau melihat Emha Ainun Najib dengan grup musik Kiai Kanjeng membawakan lagu ini.
Irama tembang ini pula digunakan sebagai musik pengiring sinetron Wali Songo yang disiarkan oleh salah satu stasiun TV. Tembang ini sering dianggap sebagai tembang dolanan atau lagu yang dinyanyikan saat bermain-main oleh anak-anak pada saat terang bulan. Bahkan di daerah Jogja dan sekitarnya tembang ini dinyanyikan pada saat bermain Nini Towok, atau Jalangkungan.
untuk selengkapnya :
ir-ilir tandure wis sumilir
tak ijo royo-royo
tak sanggup temanten anyar
bocah angon penekno blimbing kuwi
lunyu-lunyu penekna
kanggo mbasuh dodotiro
dodotiro kumitir bedhaning pinggir
domdomono jlumatana
kanggo sebo mengko sore
mumpung jembar kalangane
mumpung padhang rembulane
ya suraka surak iyo
Berikut ini adalah penjabaran dari makna yang terkandung dari Tembang Ilir-ilir itu. Baik berupa makna harfiah atau terjemahannya dalam bahasa Indonesia (BI), atau makna sesungguhnya (MS) yang terkandung di dalamnya.
***
Ilir-ilir
Ilir-ilir, Ilir-ilir, tandure (hu)wus sumilir
(BI) Bangunlah, bangunlah, tanamannya telah bersemi
(MS) Kanjeng Sunan mengingatkan agar orang-orang Islam segera bangun dan bergerak. Karena saatnya telah tiba. Karena bagaikan tanaman yang telah siap dipanen, demikian pula rakyat di Jawa saat itu (setelah kejatuhan Majapahit) telah siap menerima petunjuk dan ajaran Islam dari para wali.
Tak ijo royo-royo, tak sengguh temanten anyar
BI) Bagaikan warna hijau yang menyejukkan, bagaikan sepasang pengantin baru
( MS) Hijau adalah warna kejayaan Islam, dan agama Islam disini digambarkan seperti pengantin baru yang menarik hati siapapun yang melihatnya dan membawa kebahagiaan bagi orang-orang sekitarnya.
Cah angon, cah angon, penek(e)na blimbing kuwi
(BI) Anak gembala, anak gembala, tolong panjatkan pohon belimbing itu.
(MS) Yang disebut anak gembala disini adalah para pemimpin. Dan belimbing adalah buah bersegi lima, yang merupakan simbol dari lima rukun Islam dan sholat lima waktu. Jadi para pemimpin diperintahkan oleh Sunan Kalijaga untuk memberi contoh kepada rakyatnya dengan menjalankan ajaran Islam secara benar. Yaitu dengan menjalankan lima rukun Islam dan sholat lima waktu.
Lunyu-lunyu penek(e)na kanggo mbasuh dodot (s)ira
(BI) Biarpun licin, tetaplah memanjatnya, untuk mencuci kain dodot mu.
(MS) Dodot adalah sejenis kain kebesaran orang Jawa yang hanya digunakan pada upacara-upacara atau saat-saat penting. Dan buah belimbing pada jaman dahulu, karena kandungan asamnya sering digunakan sebagai pencuci kain, terutama untuk merawat kain batik supaya tetap awet. Dengan kalimat ini Sunan Kalijaga memerintahkan orang Islam untuk tetap berusaha menjalankan lima rukun Islam dan sholat lima waktu walaupun banyak rintangannya (licin jalannya). Semuanya itu diperlukan untuk menjaga kehidupan beragama mereka. Karena menurut orang Jawa, agama itu seperti pakaian bagi jiwanya. Walaupun bukan sembarang pakaian biasa.
Dodot (s)ira, dodot (s)ira kumitir bedah ing pingggir
(BI) Kain dodotmu, kain dodotmu, telah rusak dan robek
(MS) Saat itu kemerosotan moral telah menyebabkan banyak orang meninggalkan ajaran agama mereka sehingga kehidupan beragama mereka digambarkan seperti pakaian yang telah rusak dan robek.
Dondomana, jlumatana, kanggo seba mengko sore
(BI) Jahitlah, tisiklah untuk menghadap (Gustimu) nanti sore
(MS) Seba artinya menghadap orang yang berkuasa (raja/gusti), oleh karena itu disebut 'paseban' yaitu tempat menghadap raja. Di sini Sunan Kalijaga memerintahkan agar orang Jawa memperbaiki kehidupan beragamanya yang telah rusak tadi dengan cara menjalankan ajaran agama Islam secara benar, untuk bekal menghadap Allah SWT di hari nanti.
Mumpung gedhe rembulane, mumpung jembar kalangane
(BI) Selagi rembulan masih purnama, selagi tempat masih luas dan lapang
(MS) Selagi masih banyak waktu, selagi masih lapang kesempatan, perbaikilah kehidupan beragamamu.
Ya suraka, surak hiya
(BI) Ya, bersoraklah, berteriak-lah IYA
(MS) Di saatnya nanti datang panggilan dari Yang Maha Kuasa nanti, sepatutnya bagi mereka yang telah menjaga kehidupan beragamanya dengan baik untuk menjawabnya dengan gembira.
***
Demikianlah petuah dari Sunan Kalijaga lima abad yang lalu, yang sampai saat ini pun masih tetap terasa relevansinya. Semoga petuah dari salah seorang waliyullah kenamaan ini membuat kita semakin bersemangat dalam menjalankan ibadah kita di bulan yang penuh rahmat ini. Amin, amin, amin.
***
Ilir ilir
Ilir ilir, ilir ilir, tandure wus sumilir
Tak ijo royo royo, tak sengguh temanten anyar
Cah angon, cah angon, penekna blimbing kuwi
Lunyu lunyu penekna, kanggo basuh dodot ira
Dodot ira, dodot ira, kumitir bedah ing pinggir
Dondomana, jlumatana, kanggo seba mengko sore
Mumpung gedhe rembulane, mumpung jembar kalangane
Ya suraka, surak hiya
begitu ceritanya tembang si ilir-ilir adem deh rasanya setelah lihat videonya
terimakasih buat miaw's bagus banget deh awardnya bikinan miaw's sendiri hohoho kueren
katanya seh sebagai tanda terimakasih miaw's gitu..awardnya bagus banget kok friends
terimakasih yaa miaw's awardnya bagus banget deh huhuhuhu saya terharu banget
selanjutnya seperti biasa award akan saya berikan kepada 10 temen dibawah ini
1. Letakkan logo di blog kamu
2. Berikan kembali, kepada 10 Blog yang kamu anggap paling inspirasi dan sangat friendly
3. Pastikan untuk selalu menghubungkan penghargaan ini dengan blog yang kamu anggap paling memberikan inspirasi dan friendly dari tempat kamu
4. Agar mereka dapat mengetahui, bahwa mereka telah mendapatkan anugerah ini dengan cara memberikan comment ke blog mereka
5. Berbagi cinta dan sayang untuk penghargaan ini, dari siapa kamu mendapatkan anugerah ini
wah hebat tenan... membahas tembang itu.. saya dulu belajar jaman SD dan SMP tuh...sekarang dah lupa...kebangetan yah...harusnya kita sendiri yang melestarikannya...
He-eh,saya pernah baca juga yg seperti ini. Sebenarnya memang ada makna tersirat dalam setiap tembang-tembang. Mungkin kita saja yg kudu mendalami.. (saya sendiri sering gak ngerti bahasanya)
inget masa kecil mas... kalo mau merenungkan emang semua tembang-tembang seperti itu ada makna yang sangat dalam, bahkan seperti ada muatan mistis disana....
weleh2.......baru mampir nie sob.....and langsung dapet award hehehehehe...duch nuhun pisan atuch buat award nya.....langsung gw bawa yupz.....thanks before
Ya,Setuju sebuah karya Adiluhung hasil telusur dan telaah batin akan K Imanan Umat dengan sang Khaliq. Setuju , untuk Raden Syahid Sunan Kali Jaga Rahimakumullah, Al-Fatihah.
43 komentar:
mengingatkanku waktu kecil hahahahah,...pertamax..premium...solar...minyak tanah sampek spbu ane borong
hehehe, tenang mas nanti ada lanjutannya ;). btw, lagunya asyik banged deh mas.
lir ilir lir ilir tandure wong sumilir ta ijo loyo loyo..............
bocang angong bocah angon penek no blimbing kui lunyu2 penekno kanggo...............mengko sore
itulah mungkin ya..........?
makasih sobat dah mampir diblogku, karena saya bukan orang jawa jadi ini sebagai info yang berguna...
wwawawawawaw..lagu jaman aku kecil, jadi inget sama kebo punya pakde gue,,,
Denger lagu ini jadi inget waktu masih di pondok hehehe. Enak enak jadi bernostalgia...
lir ilir emank keren
tandure wes sumilir tak ijo royo-royo..hehehehe
wah hebat tenan...
membahas tembang itu..
saya dulu belajar jaman SD dan SMP tuh...sekarang dah lupa...kebangetan yah...harusnya kita sendiri yang melestarikannya...
itu lagunya yg ada tekx "Lir Ilir.. Ilir..."?
hehe maaf kl salah, maklum lg sotoy
jadi inget ama kakek dan nenekku. Waktu kecil aku kalo gak bisa tidur selalu dinyanyiin tembang itu...
He-eh,saya pernah baca juga yg seperti ini. Sebenarnya memang ada makna tersirat dalam setiap tembang-tembang. Mungkin kita saja yg kudu mendalami.. (saya sendiri sering gak ngerti bahasanya)
wah bagus inih, sunan kalijaga emang top abis, gak nyebarin agama pake kekerasan.
Info nya sangat menarik.
Untuk Spoiler nya di klik langsung menghilang dan tidak bisa di hide lagi tuh sob. Coba dikombinasikan dengan script spoiler yang aku posting disini
inget masa kecil mas... kalo mau merenungkan emang semua tembang-tembang seperti itu ada makna yang sangat dalam, bahkan seperti ada muatan mistis disana....
weleh2.......baru mampir nie sob.....and langsung dapet award hehehehehe...duch nuhun pisan atuch buat award nya.....langsung gw bawa yupz.....thanks before
Allohu akbar...Khamdulillah jadi tahu maknanya lir ilir nih...
makasih ya..
Dan makasih awardnya, aku pajang di blogku ya...
Jadi malu, aku yg juga orang Jawa gak paham masalah beginian...
BTW, udah praktekkin cara buat spoiler ya ??
wah jadi keingetan dulu waktu SD lomba nyanyi laagu ini....
wow..kamu tau banyak yah..thank you for sharing yoooo ;)
oh...begitu ya ?
kanjeng sunan kalijaga emang top abis.
Ilir-ilir aku gak tahu tembang itu
kayanya bahasa Jawa ya??
nanti tak tanya nenekku dulu
Waktu saya kecil, saya sering di ninabobokkan oleh bapak ma ibu dengan lagu Lir Ilir ini...
wedew jd inget masa kecil doeloe yg suka nyanyiin tuh,he..
hmmm...ternyata kamu sangat peduli dgn budaya yaks..tingkatkan bro! kita perlu orng spt muw hehehe
waaa,,dapet award lagi...maksih bru...ciipp bgt..ak comot yah awardnyah
weks....btw ane juga jadi inget waktu kecil dulu sering nyanyi lir ilir ntu...
waduuhh ga ngerti nih cerita??hehe
saya tambah lagi award nya... (biar banyak)
diambil ya mas,, heuheuheu
hi... pa kabar sob.saya ada ebook bagus lo.silahkan kunjungi blog aku
mengingat-ingat pelajaran dulu nih. makasih sharingnya. yang dapat award, selamat moga makin semangat ngeblognya.
mampir mau dengerin lagunya ilir2 :)
...maka untuk Beliau Raden Syahid Sunan Kalijaga Rahima-hu-Llah, AL-FATIHAH!
aku ndakmudeng nih... Maklum bukan orang jawa... hehehe...
Ya,Setuju sebuah karya Adiluhung hasil telusur dan telaah batin akan K Imanan Umat dengan sang Khaliq. Setuju , untuk Raden Syahid Sunan Kali Jaga Rahimakumullah, Al-Fatihah.
makasih sob awardnya..., jadi 2 deh.... dapat dari kucing tengil juga....,
makasih yah sobat..... atas awardnya...
lagunya enak banget.... cara copy gimana ya??? mau dong... please!!! maklum aku masih katrok... trims..
Nyanyian pas menikmati padan mbulan neng plataran....
yo nyanyi.......yo nyanyi.......
Saya pernah dengar penjabaran ini ketika mendengarkan wayang kulit di radio..
Sungguh lagu orang jaman dahulu jauh lebih berbobot.
tembang lir ilir emang filosofis banget!!!
selain ilir ilir masih banyak sanepo yang ada di lagu lagu daerah yang diciptakan sunan kali jogo bos
misalnya turi turi putih dsb bos
wah...ternyata makna yang terkandung sangat dalam,
saya asli jawa tapi baru tahu sekarang,
terima kasih sharingnya.
Poskan Komentar
terima kasih atas komentar Anda
jangan lupa besok kembali lagi ya